Limbah Uang Rupiah Kini Diolah Jadi Cendera Mata hingga Sumber Energi

Share

Jakarta, [GT] – Uang Rupiah yang sudah tidak layak edar ternyata tak berhenti pada proses pemusnahan. Bank Indonesia (BI) kini mengubah limbah racik uang menjadi sesuatu yang memiliki nilai baru, mulai dari cendera mata hingga sumber energi untuk kebutuhan listrik dan industri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi pengelolaan uang Rupiah yang lebih ramah lingkungan dengan mengusung prinsip ekonomi sirkular.

Advertisement

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali mengatakan, pengelolaan Rupiah saat ini tidak lagi sekadar berfokus pada pencetakan, pengedaran, hingga pemusnahan uang yang sudah tidak layak edar.

Menurutnya, aspek keberlanjutan lingkungan menjadi tuntutan penting dalam pengelolaan mata uang.

“Ketika uang tidak lagi layak edar, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif,” ujar Ricky saat membuka rangkaian Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Senayan, Jakarta.

BI kemudian melakukan berbagai inovasi dalam pengelolaan limbah racik uang. Salah satunya dengan menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengolah limbah tersebut menjadi berbagai produk cendera mata.

Tak hanya itu, BI juga menjalin kemitraan dengan perusahaan pengolahan energi. Limbah racik uang dimanfaatkan sebagai bahan tambahan sumber energi listrik maupun energi untuk kebutuhan industri.

Hingga saat ini, sekitar 72 persen limbah racik uang kertas telah diolah melalui pendekatan sirkuler. BI menargetkan seluruh limbah racik uang dapat diolah secara sirkuler mulai 2027.

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa uang yang sudah tidak layak edar masih dapat memberikan manfaat baru bagi lingkungan sekaligus perekonomian.
Ricky menegaskan, transformasi ramah lingkungan dilakukan BI dalam berbagai tahapan pengelolaan Rupiah, mulai dari proses pencetakan, pengedaran hingga pemusnahan.

Inovasi tersebut bahkan mendapat pengakuan internasional setelah pengelolaan uang BI meraih International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.

Upaya serupa juga dilakukan sejumlah bank sentral di kawasan. Bank Negara Malaysia (BNM), misalnya, mengolah limbah racik uang menjadi berbagai produk. Sementara Bank of Thailand menggunakan bahan kertas yang lebih tahan lama untuk memperpanjang masa edar uang.

Penggunaan bahan yang lebih tahan lama dinilai dapat mengurangi kebutuhan pencetakan ulang uang akibat kerusakan atau usia edar, sekaligus meningkatkan efisiensi dan mendukung keberlanjutan.

Berbagai inovasi tersebut menjadi pembahasan dalam BRIDGE 2026, forum dialog internasional mengenai ekosistem pengelolaan uang yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 13 Agustus 2026 sebagai bagian dari rangkaian FERBI 2026.

Forum tersebut mempertemukan Bank Indonesia dengan bank sentral dan otoritas moneter dari sejumlah negara, antara lain India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini, serta pelaku industri uang tunai internasional.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular ini, Bank Indonesia ingin memastikan perjalanan Rupiah tidak berhenti ketika uang tersebut sudah tidak layak edar. Limbah uang pun diarahkan untuk kembali memberikan manfaat, baik bagi lingkungan maupun sektor ekonomi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *