Batam, [GT] – “Boleh kami nambah ya, Pak. Enak sambalnya ini.” Celetukan seorang pengemudi ojek online (ojol) sontak mengundang tawa di tengah suasana Jumat pagi di Dataran Engku Hamidah, Batam, Jumat (25/9/26).
Bukan tanpa alasan. Hari itu, suasana Jumat Berkah Ditreskrimsus Polda Kepri memang dibuat berbeda.
Tak ada barisan warga yang menerima nasi kotak lalu pergi. Kali ini, makanan disajikan secara prasmanan. Warga bebas memilih lauk dan mengambil makanan sesuai selera, bahkan boleh menambah jika masih merasa kurang.
Konsep sederhana itu justru membuat suasana terasa lebih akrab.
Polisi, jurnalis, pengemudi ojol, pekerja bangunan, hingga warga sekitar duduk dan bercengkerama dalam suasana santai. Tidak terlihat sekat antara aparat dan masyarakat.
“Gas saja selagi mampu. Kalau ada yang belum makan, langsung suruh ke sini,” timpal seorang jurnalis ketika mendengar permintaan ojol tersebut.
Tawa pun kembali pecah.
Bagi sebagian warga, Jumat Berkah pagi itu bukan sekadar soal sepiring makanan. Ada suasana berbeda yang mereka rasakan: bisa makan dengan santai, memilih sendiri menu yang disukai, sekaligus berbincang dengan orang-orang yang biasanya mereka temui dalam situasi berbeda.
Pengemudi ojol bukan satu-satunya yang datang. Sejumlah warga di sekitar Dataran Engku Hamidah dan para pekerja bangunan yang sedang beraktivitas di kawasan tersebut turut menikmati hidangan yang disediakan.
Mereka datang silih berganti dan tetap mengantre dengan tertib.
Dalam waktu sekitar tiga jam, makanan yang disiapkan panitia akhirnya habis.
AKP Alex Yasral, anggota Ditreskrimsus Polda Kepri yang hadir di lokasi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin. Namun, kali ini pihaknya sengaja menghadirkan konsep yang berbeda.
“Kegiatan ini adalah kegiatan rutin kita. Kalau kali ini temanya berbeda. Intinya kita sama-sama cari berkah,” ujar Alex.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum berbagi makanan, tetapi juga kesempatan untuk membangun kedekatan antara polisi, jurnalis, dan masyarakat.
Jumat Berkah di Dataran Engku Hamidah pagi itu pun berakhir ketika hidangan terakhir habis. Namun, yang tersisa bukan hanya piring-piring kosong, melainkan juga tawa, obrolan ringan, dan suasana keakraban yang tercipta dari sebuah kegiatan sederhana.
Di tengah rutinitas Kota Batam yang terus bergerak, sepiring makanan ternyata bisa menjadi cara sederhana untuk mempertemukan banyak orang dalam satu meja.(*)



























