Lingga, [GT] – Industri kreatif di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mulai menunjukkan taji. Kain tenun produksi Rumah Tenun Lingga kini bukan hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya Melayu, tetapi juga berkembang sebagai produk fesyen bernilai ekonomi tinggi.
Dengan harga mencapai Rp5 juta per helai, kain tenun bermotif khas Melayu seperti tampuk manggis dan melati menyasar pasar premium. Proses pengerjaan manual menjadi salah satu alasan produk tersebut memiliki nilai jual tinggi.
Pangsa pasarnya pun terbukti mulai meluas. Pesanan dari Malaysia terus berdatangan, membuka peluang bagi pengrajin lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar ke luar negeri.
Ketua Rumah Tenun Lingga, Isnawati, menyebut dukungan peralatan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi. Rumah Tenun Lingga mendapat bantuan lima alat tenun bukan mesin (ATBM) dari Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau.
“Kalau untuk produksi sudah terbantu dengan adanya bantuan ini,” ujar Isnawati, Selasa (11/8/26) petang.
Namun, pertumbuhan bisnis tenun masih menghadapi persoalan regenerasi. Jumlah anak muda yang tertarik menjadi pengrajin belum banyak, padahal permintaan pasar terus berkembang.
Bagi Rumah Tenun Lingga, tantangannya kini bukan sekadar membuat kain. Bagaimana menjadikan tenun sebagai industri kreatif yang mampu menghidupi pengrajin sekaligus membawa identitas Melayu Lingga ke pasar yang lebih luas.
Produk tenun Lingga juga dipersiapkan untuk tampil dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal ke pasar nasional.
Ada tempat-tempat yang didatangi untuk menikmati pemandangan. Ada pula tempat yang membuat wisatawan berhenti sejenak, melihat sekeliling, lalu menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di sebuah titik istimewa di muka bumi.
Tanjung Teludas, Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, adalah salah satunya.
Di kawasan ini berdiri Tugu Khatulistiwa Lingga, sebuah penanda geografis yang membawa cerita sederhana namun menarik: di sinilah garis khatulistiwa melintas di Pulau Lingga.
Bagi wisatawan, garis itu mungkin hanya terlihat seperti sebuah penanda. Namun ketika berdiri tepat di atasnya, ada sensasi berbeda seolah sedang berada di sebuah garis imajiner yang membelah bumi menjadi dua bagian, utara dan selatan.
Senin (10/8/26), kawasan tersebut mendapat kunjungan rombongan wartawan dari berbagai media di Batam dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026.
Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman tersendiri.
Dari simpang menuju Pelabuhan Sungai Tenam, tugu berjarak sekitar dua kilometer. Jalan menuju lokasi juga terus dibenahi untuk mendukung akses wisatawan.
Berdiri di Titik yang Membelah Bumi
Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Lazuardi, mengatakan Tugu Khatulistiwa dibangun untuk menegaskan keberadaan garis khatulistiwa yang melintasi Pulau Lingga.
“Pertama, Tugu Khatulistiwa ini dibangun untuk membuktikan bahwa Pulau Lingga merupakan salah satu wilayah yang dilalui garis khatulistiwa. Yang kedua, tentu untuk tujuan wisatawan,” ujar Lazuardi.
Keistimewaan lokasi ini semakin terasa karena kawasan tugu berada tidak jauh dari laut. Lanskap pesisir berpadu dengan penanda geografis, menciptakan karakter wisata yang berbeda dari destinasi khatulistiwa pada umumnya.
Bagi wisatawan yang gemar mencari destinasi unik untuk diabadikan dalam kamera, tempat ini menawarkan pengalaman yang tidak biasa: berdiri di garis yang secara geografis membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan.
“Ini jalur Matahari, dari barat ke timur. Di sini kita berada di tengah-tengah garis khatulistiwa,” kata Lazuardi.
Ketika Khatulistiwa Bertemu Identitas Melayu
Yang membuat Tugu Khatulistiwa Lingga semakin menarik bukan hanya letaknya.
Desain tugu juga menyimpan simbol yang berusaha menggabungkan identitas geografis dengan karakter Melayu.
Bingkai pada tugu menggambarkan peta global. Busur panah merepresentasikan arah utara dan selatan, sedangkan pasak di bagian tengah menjadi simbol titik nol atau garis khatulistiwa.
Ada pula unsur keris, simbol yang lekat dengan kebudayaan Melayu.
Di sinilah cerita tentang sebuah garis geografis bertemu dengan sejarah panjang Lingga.
Kabupaten Lingga dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu, wilayah yang memiliki jejak kuat Kesultanan Riau-Lingga dengan pusat pemerintahan dan sejarah yang berkembang di Daik.
Karena itu, Tugu Khatulistiwa tidak berhenti sebagai destinasi untuk berfoto. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk memahami Lingga secara lebih luas mulai dari sejarah, budaya, tradisi, hingga kehidupan masyarakat Melayu pesisir.
Dari Pelabuhan, Tugu Bisa Jadi Pintu Masuk Wisata
Potensi Tugu Khatulistiwa semakin menarik karena lokasinya relatif mudah dijangkau dari kawasan Pelabuhan Sei Tenam.
Lazuardi menyebut akses dari simpang menuju tugu sekitar dua kilometer.
“Kalau dari simpang ke sini lebih kurang dua kilometer. Dari simpang menuju pelabuhan sekitar setengah kilometer. Jadi bisa dikatakan gerbang pertama selain pelabuhan tadi adalah Tugu Khatulistiwa yang berada di Tanjung Teluda ini,” ujarnya.
Untuk sementara, wisatawan belum dipungut biaya masuk.
“Masuk di sini gratis karena masih berbenah. Belum ada retribusi karena fasilitas juga masih dalam tahap pembenahan,” kata Lazuardi.
Kondisi tersebut justru memberikan peluang besar bagi pengembangan destinasi. Dengan penataan fasilitas, ruang swafoto, pusat informasi, produk UMKM, kuliner lokal, hingga paket wisata sejarah dan budaya, Tugu Khatulistiwa berpotensi menjadi salah satu titik singgah baru wisatawan yang datang ke Lingga.
Bukan Hanya Soal Foto, Tapi Cerita
Di tengah tren wisata kekinian yang semakin mencari pengalaman unik dan “instagramable”, destinasi seperti Tugu Khatulistiwa memiliki modal cerita yang kuat.
Wisatawan tidak sekadar datang, berfoto di depan tugu, lalu pulang. Mereka bisa merasakan pengalaman berdiri di garis khatulistiwa, menikmati lanskap pesisir Tanjung Teludas, kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri sejarah Daik dan warisan budaya Melayu.
Konsep inilah yang dapat membuat wisata Lingga berkembang lebih jauh. Alam menjadi daya tarik, sejarah menjadi cerita, sementara budaya dan ekonomi kreatif masyarakat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Terlebih, semangat tersebut sejalan dengan tema Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, yakni “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”
Warisan Melayu tidak harus berhenti sebagai benda sejarah atau cerita masa lalu. Jika dikemas kreatif, warisan tersebut dapat menjadi energi baru bagi pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Ada alasan lain mengapa Pantai Dungun di Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, layak masuk daftar destinasi yang ingin dikunjungi para pencinta wisata alam.
Bukan hanya hamparan pasirnya yang panjang, suasana pesisir yang masih alami, atau deburan ombak dari arah laut lepas. Di kawasan pantai ini, ada momen alam yang jauh lebih istimewa: musim penyu bertelur.
Ketika malam tiba dan suasana pantai mulai sepi, kawasan pesisir Pantai Dungun menjadi salah satu ruang alami bagi penyu untuk kembali ke daratan dan meletakkan telur-telurnya.
Momen tersebut tentu bukan sekadar atraksi wisata. Bagi masyarakat dan pencinta lingkungan, kemunculan penyu menjadi pengingat bahwa kawasan pesisir yang masih terjaga memiliki peran penting bagi keberlangsungan satwa laut.
Pantai Dungun sendiri berada di Pulau Lingga dan berhadapan langsung dengan Laut China Selatan atau Laut Natuna. Garis pantainya membentang lebih dari satu kilometer dengan hamparan pasir yang terlihat semakin luas ketika air laut surut.
Pemandu wisata setempat, Lazuardi, mengatakan karakter alami Pantai Dungun menjadi salah satu daya tarik kawasan tersebut.
“Pantai ini hamparannya sangat luas saat air surut, berpasir halus, dan panjang pantainya lebih dari satu kilometer,” ujar Lazuardi.
Selain menikmati panorama laut, pengunjung bisa merasakan pengalaman wisata yang sederhana. Mulai dari bermain air, berenang, hingga menikmati suasana matahari terbenam.
Ketika laut surut, sebagian masyarakat juga memanfaatkan kawasan pesisir untuk mencari hasil karang seperti kepah dan remis.
“Di pantai ini kita bisa menikmati mandi laut, sekaligus mencari hasil-hasil karang seperti kepah, remis, dan sejenisnya,” katanya.
Namun, jika datang pada musim penyu bertelur, wisatawan tentu perlu mengubah cara menikmati pantai.
Penyu yang naik ke daratan membutuhkan kondisi pantai yang tenang dan minim gangguan. Karena itu, wisatawan yang beruntung melihat aktivitas penyu sebaiknya tidak mendekat secara berlebihan, tidak menyorotkan lampu langsung ke arah penyu, apalagi menyentuh atau mengganggu proses bertelur.
Bagi pencinta wisata alam, justru di situlah sensasinya. Menikmati alam bukan selalu tentang mengambil foto sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana bisa menyaksikan sebuah proses alami tanpa mengubah perilaku satwa yang datang.
Pantai Dungun juga menyimpan cerita dari nama yang digunakan hingga sekarang. Nama Dungun berasal dari Kampung Dungun yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Menurut Lazuardi, penamaan itu berkaitan dengan vegetasi lokal yang tumbuh di sekitar kawasan pantai, termasuk pohon yang dikenal masyarakat setempat sebagai pohon dungun.
Di tengah perkembangan destinasi wisata bahari di Lingga, Pantai Dungun masih menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan: suasana pantai yang relatif sepi dan alami.
Fasilitas wisata memang belum sebanyak destinasi populer. Homestay yang tersedia juga masih terbatas. Namun, kondisi tersebut justru bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman liburan lebih tenang dan jauh dari keramaian.
Dari Kota Daik, perjalanan menuju Pantai Dungun dapat ditempuh melalui jalur darat sekitar satu jam lebih. Akses yang masih menjadi tantangan membuat perjalanan menuju pantai terasa seperti bagian dari petualangan menjelajahi Pulau Lingga.
Yang menarik, hingga kini pengunjung juga belum dikenakan tiket masuk maupun retribusi resmi.
Dengan kombinasi pantai alami, laut lepas, suasana tenang dan kesempatan menyaksikan fenomena penyu bertelur, Pantai Dungun menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.
Bukan sekadar datang, bermain pasir lalu pulang.
Di Pantai Dungun, wisatawan diajak melihat bagaimana alam bekerja dalam diam—termasuk ketika seekor penyu memilih kembali ke pantai untuk melanjutkan siklus kehidupannya.
Dan mungkin, itulah kemewahan sebenarnya dari sebuah destinasi wisata yang masih alami: ketika manusia datang sebagai tamu, bukan sebagai penguasa alam.
Lingga punya modal besar untuk menjadi salah satu magnet wisata di Kepulauan Riau. Alamnya menawarkan pemandian, air terjun, hingga destinasi pulau yang punya daya tarik untuk wisatawan yang mencari pengalaman berbeda.
Masalahnya, potensi tersebut belum sepenuhnya bisa digenjot. Anggaran daerah yang terbatas menjadi salah satu tantangan terbesar pengembangan pariwisata Lingga.
Dalam Forum Group Discussion (FGD) Pariwisata Lingga bersama Bank Indonesia Perwakilan Kepri dan ISEI Cabang Batam, pemerintah daerah mulai mendorong pola baru pengembangan wisata. Targetnya bukan sekadar mengejar jumlah wisatawan, tetapi bagaimana setiap kunjungan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Destinasi wisata air masih menjadi favorit. Pemandian Batu Ampar misalnya, mencatat 10.131 kunjungan, disusul Pemandian Air Panas dan Air Terjun Resun.
Namun, destinasi pulau seperti Berhala dan Benan justru menawarkan peluang lain. Retribusi per kunjungannya lebih tinggi, menunjukkan adanya ruang untuk mengembangkan wisata minat khusus hingga segmen premium.
Ketika pembangunan fisik terbentur anggaran, digitalisasi menjadi salah satu jalan yang coba ditempuh Lingga.
Sejak Mei 2026, pemerintah kabupaten mulai menerapkan Lingga Smart Retribusi (LSR). Sistem ini ke depan diarahkan terintegrasi dengan pembayaran digital seperti QRIS sekaligus mendukung promosi destinasi melalui platform digital.
Konsepnya sederhana: wisatawan dibuat lebih mudah menemukan destinasi, membayar tiket, sekaligus mendapatkan pengalaman yang lebih praktis.
Di lapangan, persoalannya masih cukup banyak. Sejumlah objek wisata belum memiliki fasilitas dasar yang memadai, mulai dari toilet, gazebo hingga sarana kebersihan.
Pengelolaan destinasi juga belum merata. Sebagian Pokdarwis belum aktif karena pembinaan dan ketersediaan SDM masih terbatas.
Belum lagi akses menuju Lingga yang belum semudah Batam atau Bintan. Kondisi konektivitas ini menjadi tantangan tersendiri untuk menarik wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.
Karena itu, pengembangan wisata Lingga kini diarahkan tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Promosi digital, peningkatan kualitas SDM, akses pembiayaan UMKM dan penguatan destinasi menjadi strategi yang dinilai lebih realistis di tengah keterbatasan APBD.
Jika dikelola konsisten, kekuatan wisata Lingga bukan hanya soal keindahan alam. Yang lebih penting, setiap wisatawan yang datang bisa meninggalkan jejak ekonomi bagi warga lokal dari penginapan, kuliner, transportasi hingga produk UMKM.
Tekanan inflasi di Kepulauan Riau (Kepri) mulai mereda pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Kepri sebesar 3,49 persen (yoy), turun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 3,87 persen.
Meski melandai, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,28 persen (yoy). Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Kepri masih menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan dan layanan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Advertisement
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Roni, menjelaskan bahwa perkembangan inflasi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena kenaikan harga tidak hanya berpengaruh terhadap biaya konsumsi rumah tangga, tetapi juga dapat meningkatkan biaya usaha dan menekan daya beli masyarakat.
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Kepri. Emas perhiasan memberikan andil 0,44 persen, diikuti angkutan udara 0,30 persen, bensin 0,27 persen, nasi dengan lauk 0,26 persen, serta beras 0,18 persen.
Tingginya kontribusi komoditas tersebut menunjukkan bahwa meskipun inflasi secara tahunan mulai turun, tingkat harga sejumlah kebutuhan masyarakat masih berada di atas posisi tahun sebelumnya.
Harga emas perhiasan, misalnya, masih dipengaruhi perkembangan harga emas dunia. Sementara itu, tarif angkutan udara dan harga bensin masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Bagi masyarakat Kepri yang memiliki mobilitas antardaerah cukup tinggi, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya perjalanan.
Dampak lainnya terlihat pada harga makanan. Komoditas nasi dengan lauk masih memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi tahunan. Kondisi ini berkaitan dengan akumulasi kenaikan harga sebelumnya serta masih tingginya biaya bahan baku dan faktor produksi.
Artinya, meskipun tidak semua komoditas mengalami lonjakan harga pada September, masyarakat masih merasakan dampak dari level harga yang sudah lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.(Nca)



























