Jakarta, [GT] – Real Madrid identik dengan kejayaan Eropa. Trofi Liga Champions seolah menjadi “makanan sehari-hari” bagi Los Blancos. Namun, ada satu kompetisi domestik yang kerap menjadi duri dalam daging: Copa del Rey.
Sejak memasuki era 2000-an, turnamen tertua di Spanyol itu justru sering menghadirkan cerita pahit bagi Madrid. Kekalahan mengejutkan dari tim yang secara kualitas berada jauh di bawah mereka berulang kali terjadi, seakan menjadi pola yang sulit dipatahkan.
Faktanya cukup mencolok. Dari total 17 gelar Copa del Rey yang diraih sepanjang abad ke-20, Real Madrid hanya mampu menambah tiga trofi dalam 26 tahun terakhir. Angka tersebut terasa janggal bagi klub dengan status tersukses di Eropa.
Di sisi lain, Barcelona tampil jauh lebih konsisten. Enam gelar dalam 11 musim terakhir menjadi bukti bahwa Copa del Rey bukan sekadar kompetisi pelengkap bagi rival abadi Madrid tersebut.
Salah satu luka terdalam terjadi pada musim 2005-2006. Real Madrid dipermalukan Real Zaragoza dengan skor telak 6-1 di leg pertama semifinal. Diego Milito menjadi mimpi buruk dengan empat gol, sementara Iker Casillas harus berkali-kali memungut bola dari gawangnya.
Meski Madrid sempat menang 4-0 di leg kedua, hasil itu tak cukup menyelamatkan mereka dari eliminasi. Kekalahan tersebut bahkan menjadi salah satu faktor yang mendorong Florentino Perez mengakhiri periode pertamanya sebagai presiden klub.
Hingga musim 2025-2026, cerita serupa terus berulang. Skuad bertabur bintang dan pergantian pelatih belum mampu menghapus stigma, Copa del Rey tetap menjadi panggung penuh jebakan bagi sang Raja Eropa.(*)





















