Jakarta, [GT] – Sebuah potongan video dalam Sidang Komite Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Selasa 12 Maret 2024 menyita perhatian publik, sidang itu sempat menyoroti hasil Pilpres di Indonesia.
Dalam video, anggota Komite HAM PBB dari Senegal, Bacre Waly Ndiaye meyinggung netralitas Presiden Joko Widodo yang merestui pencalonan putra sulung Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres Prabowo Subianto.
Perwakilan Indonesia yang hadir dalam sidang tersebut, terlihat cukup bingung menanggapi pertanyaan tersebut. Beberapa media sempat mengulas terkait pernyataan Bacre Waly Ndiaye.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara (Jubir) Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN) menilai, pertanyaan anggota Komite HAM PBB terhadap urusan politik domestik Indonesia sebagai bentuk tamparan keras bagi pemerintah.
“Tentu kita perlu melihat ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah, dimana isu yang harusnya menjadi isu domestik menjadi perhatian internasional,” kata Billy saat dikonfirmasi, dikutip Senin (18/3/2024).
Selain itu, Billy memandang pertanyaan ihwal netralitas Presiden Jokowi itu juga sebagai suatu teguran. Maka, kata Billy pemerintah perlu memandang hal itu dengan serius.
“Dengan teguran semacam ini saya rasa selesai tanggal 14 Februari pun perhatian publik bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri terus meningkat. Dan pemerintah perlu mengambil langkah serius atas hal tersebut,” ucap Billy.
Terlebih, kata Billy netralitas Jokowi seorang kepala negara dipertanyakan di forum PBB. Dia meyakini, di forum itu hadir orang-orang yang memiliki kredibilitas kuat.
“Tentang isu-isu demikian itu kita juga perlu lihat dalam kacamata internasional bagaimana indonesia harus berperan lebih aktif untuk menjelaskan situasi apa yang terjadi di negerinya ke kancah internasional,” ucap Billy.
“Dan tentu yang patut kita pertanyakan juga adalah bagaimana selama ini komitmen Indonesia hadir di forum-forum internasional terutama presiden,” tandasnya.(*)
Sumber : liputan6.com



























