Mengenal Ibul Senjata Pamungkas Nelayan Pesisir Pulau Bulan Menangkap Buaya Penangkaran Yang Lepas

Share

Batam, [GT] – Peristiwa buaya yang lepas dari penangkaran milik PT Perkasa Jagat Karunia (PJK) sejak, Senin (13/1/2025) lalu dari pulau Bulan, Batam, membuat heboh jagad raya.

Pemangku kebijakan setempat gerak cepat membikin tim terpadu menanggulanginya, setelah banyak keluhan. Keterbatasan pengetahuan membuat para nelayan yang membantu tim menangkap buaya mengeluarkan senjata pamukasnya.

Advertisement

Meski sebanyak 35 ekor reptil predator puncak tersebut dilaporkan telah berhasil diamankan oleh tim terpadu. Nelayan mengira masih banyak buaya penangkaran yang lepas berkeliaran di alam liar. Mengingat tanggul kolam yang jebol berdiameter puluhan meter.

Dimana mayoritas buaya dewasa berukuran 3-6 meter ini, berhasil diamankan secara swadaya oleh para nelayan dari beberapa pulau yang ada di Kecamatan Bulang.

Nelayan menggunakan sebuah senjata khas dari suku laut di Kepulauan Riau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘ibul’.

‘ibul’ sebuah senjata yang berbentuk seperti ujung tombak, menjadi senjata ampuh dalam melumpuhkan buaya tanpa membunuh hewan yang masuk kategori dilindungi di Indonesia.

“Ibul itu senjata yang khas digunakan suku laut, berbentuk seperti ujung tombak, diikat ke kayu yang juga diberi tali untuk membelit buaya setelah terkena,” jelas Edi, salah satu nelayan pulau Buluh yang ditemui, Kamis (23/1/2025).

Normalnya, setelah terkena ‘ibul’ buaya akan merespon dengan berusaha lari, baik masuk kembali ke dalam air atau berlari ke arah hutan bakau. Namun pelarian buaya akan dapat terdeteksi dengan pelampung di ujung tali.

Selain itu, upaya buaya yang melawan dengan berusaha melepaskan ibul, akan berakhir sia-sia dikarenakan terbelit tali hingga membuat buaya lemas, dan kemudian dapat ditarik menuju darat.

“Saat buaya terkena, dia akan berbelit sendiri hingga lumpuh, baru buaya tu dapat ditarik ke darat,” lanjutnya.

Walau kulit buaya terkenal dengan keras, Edi bersama beberapa nelayan lain menyebut untuk menangkap menggunakan ibul, bagian punggung adalah bagian yang sangat efektif.

Walau begitu, perburuan menggunakan senjata ini tidak akan membunuh buaya, dikarenakan ukuran ibul yang kecil, maka senjata ini hanya untuk melumpuhkan saja.

“Untuk yang kami pakai itu ibuk yang kecil, sifatnya hanya melumpuhkan. Kalau untuk membunuh pakai yang besar,” jelasnya.

Untuk mencari keberadaan buaya-buaya lepas ini, warga nelayan melakukan patroli rutin yang dimulai sejak sore hingga malam hari, dan menyasar kawasan hutan bakau serta area muara.

Hingga saat ini, adapun wilayah pulau yang menjadi sasaran patroli adalah wilayah Pulau Temoyong, Pulau Buluh, Pulau Seraya dan Pulau sekitar Pulau Bulan lainnya.

“Siang hari buaya lebih liar, jadi kami mencari sore atau malam hari. Kalau malam lebih mudah karena bisa disorot (menggunakan senter),” jelasnya.

Setelah berhasil diamankan, buaya-buaya ini kemudian dilaporkan ke tim terpadu untuk segera dikembalikan ke wilayah penangkaran pulau Bulan.

Kepada para nelayan, pihak perusahaan diakui hanya memberikan reward berupa uang tunai sebesar Rp1 juta untuk satu ekor buaya.

Namun, jumlah itu dinilai tidak sebanding dengan risiko dan biaya operasional yang dikeluarkan. Saat ini, nelayan lebih sibuk mencari buaya daripada melaut walau harus mempertanyakan nyawa.

“Saat ini ikan terpaksa ditinggalkan dulu, dari pada nyawa melayang, yang penting kita amankan dulu buaya. Namun kami minta pihak perusahaan tidak menghargai usaha nelayan seperi itu,” jelasnya.(Alr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *