Kota Baru, [GT] – Di Pulau Laut Timur, tujuh Perwira Siswa Sesko TNI AD tidak sedang menghadapi musuh dengan senjata dan amunisi. Mereka datang membawa misi yang tak kalah penting: membangun kesadaran masyarakat bahwa perang melawan kebakaran hutan dan lahan harus dimenangkan sebelum api menyala.
Kamis, 5 November 2026, Kantor Camat Pulau Laut Timur, Kabupaten Kotabaru, menjadi ruang pertemuan antara tujuh Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Sesko TNI AD) dengan tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan setempat.
Pukul 10.35 WITA, sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dimulai. Bukan sekadar menyampaikan imbauan, kegiatan ini membawa pesan tentang pentingnya membangun pertahanan lingkungan melalui keterlibatan masyarakat.
Di hadapan peserta, Mayor Arm M. Suhendri memperkenalkan tujuh Perwira Siswa yang hadir. Ia menyampaikan bahwa persoalan karhutla telah menjadi perhatian besar nasional, bahkan negara-negara tetangga. Dampaknya tidak mengenal batas wilayah. Asap dapat menyeberangi daerah, mengganggu kesehatan, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan merusak lingkungan dalam waktu panjang.
Pengalaman penugasannya di Aceh memberikan pelajaran bahwa kerusakan hutan bukan persoalan yang selesai ketika api berhasil dipadamkan. Ada konsekuensi ekologis yang terus membayangi kehidupan masyarakat setelah kobaran api menghilang.
Dalam perspektif militer, setiap ancaman harus dikenali sebelum berkembang menjadi serangan. Medan harus dipetakan, potensi bahaya harus dibaca, dan strategi harus disiapkan jauh sebelum keadaan berubah menjadi darurat. Prinsip itulah yang ingin dibangun dalam menghadapi karhutla.
“Pemerintah dan TNI tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk operasi modifikasi cuaca untuk memancing turunnya hujan. Namun, penanggulangan karhutla membutuhkan biaya besar dan risiko yang tidak ringan. Bahkan, ada prajurit yang gugur ketika menjalankan tugas memadamkan kebakaran di Kalimantan Tengah,” ungkap Mayor Suhendri.
Pengorbanan tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla bukan persoalan sederhana. Ada nyawa, anggaran negara, kesehatan masyarakat, dan masa depan lingkungan yang dipertaruhkan.
Namun, tidak semua ancaman dapat diselesaikan dengan pengerahan pasukan dan peralatan. Karhutla bukan semata-mata bencana alam. Dalam banyak kejadian, kelalaian dan aktivitas manusia turut menjadi penyebabnya. Kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, membiarkan api tanpa pengawasan, serta rendahnya kepedulian terhadap lingkungan merupakan persoalan mendasar yang harus diselesaikan.
Karena itu, sosialisasi ini diarahkan untuk membangun hubungan harmonis dengan tokoh masyarakat sekaligus memperkuat kesepahaman mengenai bahaya karhutla dan langkah pencegahannya.
Ada tiga sasaran utama yang hendak dicapai, yakni mempererat silaturahmi antara Pasis Sesko TNI AD dan tokoh masyarakat, menyampaikan informasi mengenai bahaya serta pencegahan karhutla, dan membangun kesadaran serta peran aktif masyarakat dalam menjaga wilayahnya.
Sebab, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton ketika api membesar, kemudian menunggu aparat datang membawa peralatan pemadam. Warga harus menjadi bagian dari sistem kewaspadaan, mengenali potensi ancaman, dan mengambil langkah pencegahan sejak dini.
Danpasis Sesko TNI AD, Kolonel Infanteri Hasroel, menekankan bahwa keberhasilan mengatasi karhutla tidak cukup diukur dari kemampuan aparat memadamkan api. Jauh lebih penting adalah mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi melakukan tindakan yang berpotensi memicu kebakaran.
“Pencegahan harus menjadi kesadaran bersama dan dibangun sebagai sistem jangka panjang. Kita tidak boleh hanya sibuk ketika api sudah menyala. Masyarakat harus memahami bahwa menjaga hutan dan lahan merupakan tanggung jawab bersama,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Perubahan pola pikir membutuhkan edukasi berkelanjutan, keteladanan, pengawasan, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat. Dengan demikian, pencegahan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, perang melawan karhutla tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling cepat tiba di lokasi kebakaran. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi api yang harus dipadamkan karena masyarakat telah memiliki kesadaran untuk tidak menyalakannya.
Sebab, pasukan sehebat apa pun hanya mampu memadamkan api yang sudah berkobar. Tetapi masyarakat yang berubah pola pikirnya mampu memutus penyebab kebakaran sebelum bencana itu terjadi.
Itulah pertahanan lingkungan yang sesungguhnya: bukan sekadar menyiapkan pasukan untuk memerangi api, melainkan membangun kesadaran, mengubah perilaku, dan menciptakan sistem pencegahan jangka panjang agar api tidak lagi menjadi ancaman bagi kehidupan dan masa depan generasi berikutnya.(*)



























