Bekas Galian C di Batuaji Kembali Makan Korban, Bocah 8 Tahun Tewas Tenggelam

Share

Batam, [GT] – Pagi Minggu (15/12/25), itu seharusnya menjadi waktu bermain dan tertawa bagi SF. Bocah laki-laki berusia 8 tahun itu berpamitan kepada ibunya untuk berolahraga bersama teman-temannya, seperti yang kerap ia lakukan.

Tak ada firasat buruk. Sang ibu hanya membekali doa dan melepas kepergian anaknya dengan senyum.

Advertisement

Namun, sekitar pukul 10.15 WIB, suasana di sekitar Kantor Lurah Kibing, Kecamatan Batu Aji, mendadak berubah mencekam. Kabar mengejutkan menyebar dari mulut ke mulut: SF tenggelam di kolam bekas galian proyek yang selama ini dibiarkan terbuka di tengah permukiman warga.

Kolam itu bukan tempat bermain, tetapi tanpa pagar, tanpa rambu peringatan, dan tanpa pengawasan. Bagi anak-anak, genangan air tersebut tampak seperti arena bermain yang menggoda.

Seorang warga yang curiga setelah melihat anaknya pulang dengan wajah pucat akhirnya mendapat pengakuan pahit. SF tenggelam.

Warga pun berlarian menuju lokasi, berpacu dengan waktu dan harapan. Salah seorang saksi menyelam ke dasar kolam dan menemukan tubuh kecil itu sekitar 10 meter dari bibir kolam, di kedalaman dua meter.

Tubuh SF segera diangkat. Warga berupaya memberikan pertolongan pertama, lalu membawanya ke RS Awal Bros Batu Aji. Selama hampir satu jam, tenaga medis berusaha menyelamatkan nyawa bocah itu. Namun takdir berkata lain. SF dinyatakan meninggal dunia.

Kapolsek Batu Aji, AKP Raden Bimo Dwi Lambang, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, sebelum kejadian, SF sempat pulang ke rumah sekitar pukul 07.00 WIB untuk meminta uang jajan sebesar Rp5.000, lalu kembali bermain bersama teman-temannya hingga akhirnya tragedi itu terjadi.

Kepergian SF meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga warga sekitar. Kolam bekas galian proyek yang telah lama dikeluhkan itu kini menjadi saksi bisu hilangnya satu nyawa anak-anak.

Warga menilai tragedi ini seharusnya bisa dicegah. Mereka mendesak pihak terkait, termasuk pemilik proyek dan instansi berwenang, agar tidak menutup mata terhadap lokasi-lokasi berbahaya di kawasan padat penduduk.

“Kami berharap tidak ada lagi anak yang menjadi korban. Tolong kolam seperti ini ditutup atau diamankan,” ujar salah seorang warga dengan suara lirih.

Polisi pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada mengawasi aktivitas anak-anak, terutama di sekitar lokasi bekas proyek, galian, atau genangan air terbuka. Sementara itu, aparat berharap pihak bertanggung jawab segera mengambil langkah konkret, memasang pagar, rambu peringatan, atau menutup kolam demi keselamatan warga.

Tragedi yang merenggut nyawa SF menjadi pengingat pahit kelalaian sekecil apa pun, bila dibiarkan, bisa berujung kehilangan yang tak tergantikan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *