Batam, [GT] – Ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi dan distribusi minyak dunia tersebut memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas pasokan energi internasional.
Setiap eskalasi konflik di wilayah ini hampir selalu berdampak langsung terhadap pasokan energi fosil tersebut, harga minyak mentah dan gas bumi di pasar global juga dipastikan merangkak naik.
Sejumlah analis menilai, potensi gangguan distribusi energi dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, dan Uni Emirat Arab dapat memicu lonjakan harga minyak dunia. Jika harga minyak global meroket, maka efek domino terhadap perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia sulit dihindari.
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto menilai, Indonesia sebagai negara net importir minyak sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global. Kenaikan harga minyak mentah berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sisi subsidi energi dan kompensasi BBM.
“Beban fiskal dapat meningkat signifikan jika pemerintah harus menjaga stabilitas harga bahan bakar dalam negeri,” ujarnya, saat binang bareng media, Selasa (3/3/2026).
Tak hanya sektor energi, Rony memprediksi dampak konflik juga bisa merambat ke sektor industri dan transportasi. Industri penerbangan, manufaktur, hingga logistik berisiko mengalami peningkatan biaya operasional akibat lonjakan harga avtur dan bahan bakar.
“Pada akhirnya, kenaikan biaya produksi berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa. Hal itu, diyakini bisa mendorong inflasi kedepan,” terangnya.
Selain itu, gejolak geopolitik biasanya turut memengaruhi sentimen pasar keuangan. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman (safe haven), sehingga pasar saham di negara berkembang bisa mengalami tekanan. Nilai tukar rupiah juga berpotensi melemah jika terjadi arus modal keluar.
Meski demikian, pemerintah Indonesia memiliki sejumlah instrumen untuk meredam dampak eksternal, mulai dari diversifikasi sumber energi, optimalisasi cadangan devisa, hingga kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif.
Momentum ini juga dinilai dapat menjadi dorongan percepatan transisi energi dan penguatan ketahanan energi nasional. Konflik di Timur Tengah memang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, namun dampaknya bisa terasa hingga ke dapur rumah tangga dalam negeri. (Nca)

























