Aktivis Ungkap Ancaman Krisis Air di Batam Makin Nyata, Bendungan Nongsa Menyusut 2,5 Meter Dalam Sekejap

Bendungan Nongsa terlihat dari atas.(Ist_)
Share

Batam, [GT] – Krisis air baku di Kota Batam disebut bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan yang sudah terjadi. Temuan lapangan Akar Bhumi Indonesia (ABI) menunjukkan tinggi muka air Bendungan Nongsa, Kelurahan Sambau, menyusut hingga sekitar 2,5 meter, disertai sedimentasi yang kian mempersempit daya tampung bendungan.

Pendiri ABI, Hendrik Hermawan, mengatakan penyusutan dipicu kombinasi menurunnya fungsi daerah tangkapan air (DTA), rendahnya curah hujan, serta meningkatnya kebutuhan air masyarakat. Ada juga karena pembangunan yang melegitimasi untuk merambah kawasan hutan.

Advertisement

Baca : Reklamasi dan Cut And Fill Terus Terjadi di Batam, Menteri ATR/BPN: Banyak Sekali Pengaduan Masuk

“Di sisi lain, material tanah merah yang diduga berasal dari aktivitas pembukaan lahan dan penambangan pasir ilegal telah menutupi sekitar 250 meter area bendungan hingga mengeras menyerupai daratan,” katanya, dalam keterangan yang dikutip, Jumat (7/8/26).

Menurut ABI, kondisi tersebut memperparah ketimpangan antara ketersediaan dan kebutuhan air di Batam. Berdasarkan Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Batam 2026, kebutuhan air domestik mencapai sekitar 280 juta meter kubik per tahun, sementara ketersediaannya diperkirakan hanya 139 juta meter kubik, sehingga terjadi defisit sekitar 141 juta meter kubik.

Hendrik menilai kebijakan penjatahan air dan distribusi menggunakan mobil tangki menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap sumber air baku semakin tinggi. Pengalihan pasokan dari Bendungan Duriangkang ke wilayah Nongsa, menurutnya, hanya menjadi solusi sementara tanpa menyentuh akar persoalan.

Baca : Reklamasi Ilegal di Tanjung Buntung Semakin Meresahkan, Nelayan Kian Terjepit

Dalam hal ini, ABI mendesak perlindungan kawasan daerah tangkapan air di enam bendungan utama Batam, yakni Nongsa, Sei Harapan, Sei Ladi, Muka Kuning, Tembesi, dan Duriangkang. Organisasi tersebut juga meminta setiap pembangunan di sekitar bendungan, termasuk rencana PLTS terapung di Bendungan Tembesi, dikaji secara menyeluruh agar tidak mengorbankan fungsi ekologis bendungan sebagai sumber kehidupan masyarakat.(Ind)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *