Batam, [GT] – Ikan dingkis atau nama latin Siganus Canaliculatus merupakan spesies ikan paling dicari oleh sebagian masyarakat Tionghoa saat perayaan Imlek. Harganya bisa melonjak tinggi saat perayaan imlek semakin dekat.
Ikan dingkis memiliki keistimewaan tersendiri bagi warga Tionghoa Kepulauan Riau. Hidangan dari olahan jenis ikan ini wajib disajikan saat imlek, masyarakat Tionghoa percaya ikan dingkis memiliki berkah tersendiri apabila dikonsumsi saat lerayaan imlek.
Hampir di seluruh pasar di Kota Batam ikan dingkis menjadi buruan masyarakat sekitar yang merayakan imlek. Harganya bisa melonjak 4 kali lipat dari hari biasa karena tinghinya permintaan. Ikan dingkis biasa ditangkap menggunakan keramba atau kelong bagi warga sekitar Kepuauan Riau.
Menurut siklus tahunan Ikan jenis ini hidup berkoloni dalam jumlah banyak pada waktu tertentu. Alat tangkap nelayan pesisir di Batam, juga terbilang masih tradisional tanpa merusak parah ekosistem di laut.
Harga Ikan dingkis menjelang perayaan Imlek setiap tahun, bisa melonjak hingga mencapai Rp 450 ribu per kilo gram. Sedangkan pada hari biasa ikan jenis ini dibandrol seharga Rp 60 ribu- Rp 80 ribu per kilo gramnya.
“Harganya bisa melonjak drastis dikisaran Rp 350 – Rp450 ribu per kilo gram, sekarang masih diharga Rp 300 ribu per kilo gram. Namun, bendenya sudah habis cuma 15 Kg masuk hari ini tadi pagi,” kata Marwan, pedagang ikan di Pasar Tiban Center Sekupang.
Bisanya ikan dinggis akan lebih mahal harganya dengan kelamin betina, lantaran mengandung telur yang dipercaya bila dikonsumsi dapat membawa berkah bagi warga Tionghoa. Ikan ini menjadi primadona buruan nelayan dari hasil tangkapan dilaut.
“Berburu ikan dingkis susah-susah gampang, kadang dipasang kelong hanya dua ekor ikan hasilnya. Kadang lagi musim, tak dapat sekor pon, teegantung lokasis dan prapat yang dipergunakan nelayan untuk mendirikan kelong,” kata, Pimen warga Pulau Pecong, Kecamatan Belakangpadang, Batam, Kamis (8/2/24).
Tak jarang, nelayan tradisislonal disana masih memanfaatkan siklus tahunan ikan dingkis berkembangbiak, untuk mendapatkan hasil laut yang melimpah. Alat tangkap ikan juga dirancang sedemikian rupa agar hasil tangkapan tak rusak sehingga berdampak nilai ekonomisnya.
“Ikan dingkis kelong masih terbilang tinggi harga yang ditawarkana oleh pengepul, di pulau kami. Tapi kalo ikan di jaring atau alat tangkap lain pasti kondis ikan sedikit rusak jadi harga jual jatuh di pasaran. Memang perlu keterampilaan khusus,” ujarnya.
Kepercayaan ikhwal ikan dinggis dapat membawa berkah bila dikonsumsi saat perayaan imlek, memang sudah menjadi tradisi turun temurun di kalangan warga Tionghoa. Harganya yang tinggi dan persediaan melimpah, juga membuat berkah bagi para nelayan dan pedagang.(Ody)



























