Kampung Halaman di Depan Singapura

Seorang anak sedang bermain di bibir dermaga Belakangpadang, Batam.(GRTT/Nug)
Share

Batam, [GT] – Langit kelabu menggantung rendah di atas perairan sesaat hujan reda, ombak kecil memecah pelan di tepi dermaga kayu yang mulai menua.

Seorang anak perempuan berdiri di bibir dermaga, menatap jauh ke arah utara, di mana siluet gedung-gedung tinggi tampak samar di balik kabut tipis.

Advertisement

Baca : Wisata Pulau Belakangpadang, Dari Sejarah dan Mitos Hingga Kulineri di Perbatasan Negara

Itulah Singapura, negara tetangga yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pulau kecil ini. Belakangpadang, tak cuma pulau terdepan di gugusan Kepulauan Riau yang kini bagian dari Kota Batam. Tapi punya hubungan kultur dan historis dengan penduduk negeri singa itu.

Dari pesisir Belakangpadang, pemandangan Singapura tampak seperti lukisan hidup. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di cakrawala, kontras dengan suasana tenang dan sederhana di pulau ini.

Baca : Hilang di Laut Belakangpadang, Tiga Hari Willy Belum Ditemukan

Perahu nelayan yang berlabuh di tepi pantai, rumah panggung dengan atap seng, serta aroma laut yang khas menghadirkan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota modern di seberang sana.

Suasana pemukiman warga Belakangpadang, dari atas.(GRTT/Nug)

Masyarakat Belakangpadang kerap menyebut pulau mereka sebagai “kampung halaman di depan Singapura”. Dari sini, cahaya lampu kota Singapura di malam hari terlihat berkelip, seolah menjadi bintang buatan manusia yang menghiasi ufuk utara.

Namun, bagi warga, pemandangan itu bukan sekadar tontonan, melainkan pengingat bahwa kemajuan bisa dilihat dari dekat, tetapi kehidupan yang tenang dan penuh makna justru terasa di sini.

Baca : Hilal Sudah Nampak di Belakangpadang, Insentif RT/RW Segera Cair

Meski kecil, Belakangpadang memiliki pesona tersendiri. Selain pemandangan alam dan lautnya yang indah, kehidupan masyarakatnya yang ramah serta tradisi bahari yang masih terjaga menjadikan pulau ini tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Wisatawan yang datang ke Batam sering menyempatkan diri menyeberang sekitar 15 menit dari Pelabuhan Sekupang untuk merasakan suasana damai pulau ini tempat di mana waktu seakan berjalan lebih lambat.

Dan di antara desir angin laut, pandangan mata ke arah Singapura mengingatkan bahwa kemajuan dan kesederhanaan bisa berdiri berdampingan dipisahkan hanya oleh lautan sempit, tetapi memiliki jiwa yang berbeda.(Rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *