Masih Exis Sejak Abad 18, Bus Kayu di Karimun Jadi Primadona Wisatawan

GARTTA
Para turis sedang mengamati bus kayu di Karimun, Kepri.(GRTT/Nug)
Share

Karimun, [GT] – Ada transportasi unik di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, yang sudah beroprasi sejak zaman dahulu sampai tahun milenial saat ini. Bus Kayu biasa disebut oleh masyarakat setempat, saat melihat anggkutan tersebut melintas.

Bus Mitsubishi Colt Diesel 100 ps ini agak lain dari minibus yang biasa beredar di jalanan Pulau Sumatera dan Jawa. Bus menggunakan bodi dari kayu cengal sebagai bahan dasarnya.

Advertisement

BacaJMSI Ajak Pelajar SMAN 4 Karimun Bantu Kepolisian Cegah Bahaya Narkoba Melalui Tulisan

Hal itu yang membuat bus ini jadi primadona bagi wisatawan yang hadir, baik lokal maupun mancanegara. Bus ini juga suda ada di Karimun sejak tambang timah beroprasi ratusan tahun lalu.

Bus Kayu di Kabupaten Karimun, Kepri.(Ist)

Bentuknya yang unik menjadi perhatian khusus bagi wisatawan asal negeri jiran Singapura dan Malaysia. Kebetulan awak media ini satu penginapan dengan sejumlah turis tersebut.

Usai bersantap sarapan, rombongan warga Malaysia ini berkumpul di lobby hotel untuk menunggu kedatangan bus. Biasanya wisatawan dari Malaysia dan Singapura tertarik mendatangi tempat wisata seperti pantai dan air terun.

BacaPerangi Penyelundupan, Aparat Gabungan Sita 41 Box Benih Lobster di Karimun

“Bus ini biasanya ke Pantai Belawan, tempat wisata, kami dari luar negeri, Malaysia dan Singapura yang datang sering pakai mobil ni untuk keliling Tanjung Balai,” kata Zul warga Johor Bahru, Malaysia dua hari lalu.

Awalnya, bus kayu ini populer di Kundur, Tanjung Batu, Karimun, namun berlahan keberadaanya semakin banyak untuk melayani masyarakat bada waktu itu. Exisistensinya diuji setelah masuk pesaingnya yakni angkutan kota (Angkot) pada medio 1997 dengan bahan bakar bensin.

Bus yang awal keberadaanya didesain khusus untuk lokasi pertambangan biji timah di Kundur oleh Kerajaan Inggris pada sekitar abad 18 ini, dipergunakan juga untuk angkutan pekerja tambang dari tempat tinggal mereka.

BacaRibuan Masyarakat Karimun Hadiri Tabligh Akbar Maulid Nabi Bersama Gubernur Kepri

Sekitar tahun 1824, Karimun dikuasai Belanda. Selanjutnya pada 1950-an, pengelolaan timah memerlukan transportasi barang dan pekerja melalui jalur darat.

Dikutip dari pelbagai sumber, bus ini bukan terbuat dari truk atau lori. Seluruh badan truk dihilangkan dan kepala truk dipangkas sebagian untuk diganti dengan kayu.

Pada bagian belakang dibuat atap dengan dinding yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan pun terbilang cukup kuat karena terbuat dari kayu cengkal.

BacaPLN Pastikan Pembangkit Listrik di Karimun Siap Sukseskan GTRA Summit 2023

Pada 2000-an, bus dengan desain modern mulai berkembang. Hal tersebut membuat keberadaan bus kayu tak semarak sebelumnya. Saat ini, yang tersisa adalah ambulans untuk orang China yang meninggal atau yang diberi nama Bus China Mati.

Meski demikian, keberadaan bus kayu di Kabupaten Karimun menolak mati. Beberapa bus kayu masih dioperasikan di waktu tertentu, seperti untuk bus sekolah hingga disewakan untuk turis.

Untuk mengangkut turis, para wisatawan biasanya akan dipatok harga sekitar Rp300 sampai Rp700 ribu per hari. Kehadiran bus kayu pun kini menjadi daya tarik tersendiri di wilayah Kabupaten Karimun, terutama di wilayah Pulau Karimunbesar.

Pengoperasian bus kayu ini sama dengan pengoperasian kendaraan lain, seperti cara memasukkan gigi dan lainnya. Pada zamanya, bus ini sangat mendukung mobilitas pekerja dan penggerak transportasi.

Bus kayu biasanya digunakan untuk angkutan karyawan di pagi hari pada pukul 06.00 saat berangkat ke lokasi kerja sampai pukul 18.00 wib kembali ke rumah atau barak karyawan.(Lie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *