Aceh, [GT] – Air memang telah surut di sebagian Aceh Tamiang. Namun bagi warganya, banjir belum benar-benar pergi. Ia masih tinggal di ingatan pada malam-malam panik, rumah yang tenggelam, dan rasa takut yang belum sepenuhnya sembuh. Di tengah sisa trauma itulah Presiden Prabowo Subianto datang ikut membantu menghapus ingatan itu.
Presiden memimpin Rapat Koordinasi langsung di Kabupaten Aceh Tamiang usai meninjau Rumah Hunian Danantara, Kamis (1/1/26). Kehadirannya bukan sekadar agenda kenegaraan. Ia membawa pesan sederhana namun krusial, negara tidak boleh jauh dari rakyatnya ketika luka masih terasa.
Baca : Gubernur Aceh Angkat Topi, Aksi Senyap IJTI di Aceh Tamiang Tuai Apresiasi
Di hadapan jajaran kementerian dan lembaga, Presiden menegaskan bahwa seluruh pejabat pusat turun langsung ke lokasi bencana bukan untuk formalitas. Bukan pula sekadar melihat dari kejauhan. Mereka datang untuk memahami dan dari pemahaman itulah keputusan harus lahir.
“Kita datang bukan untuk sekadar melihat, tapi untuk mengetahui masalah,” ucap Presiden dengan nada tegas, dihadapan kamera wartawan.
Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling serius. Bagi banyak keluarga, banjir bukan hanya merusak rumah dan mata pencaharian, tetapi juga meninggalkan ketakutan yang menetap. Anak-anak yang masih terbangun di malam hari ketika hujan turun, orang tua yang cemas setiap melihat sungai meninggi.
Baca : Ketakutan Masih Membekas, Anak Korban Banjir Bandang Aceh Butuh Trauma Healing
Presiden mengapresiasi inisiatif para pejabat yang menyebar ke berbagai titik terdampak, berbagi wilayah, dan mencari masalah langsung di lapangan. Menurutnya, tanggung jawab pemerintah tidak boleh berhenti pada laporan tertulis atau rapat di balik meja.
Sebelum Aceh Tamiang, Presiden juga meninjau penanganan bencana di Tapanuli Selatan. Rangkaian kunjungan ini mencerminkan satu pesan penting, pemulihan sosial dan ekonomi tidak bisa ditunda, dan koordinasi negara harus hadir di tempat paling sulit.
“Saya minta maaf belum bisa ke semua titik,” kata Presiden. “Tetapi daerah-daerah dengan dampak besar akan saya datangi,” tegasnya lagi.
Baca : Korban Banjir Masih Trauma, IJTI Datang ke Aceh Tamiang Bawa Secercah Harapan
Permintaan maaf itu sederhana, namun bermakna bagi warga yang merasa sering dilupakan setelah kamera pergi. Bagi mereka, kehadiran pemimpin negara adalah pengakuan bahwa penderitaan mereka nyata dan layak diperjuangkan.
Presiden kembali menegaskan bahwa keputusan pemerintah harus lahir dari pengecekan langsung, dari mendengar keluhan warga, dan dari memahami kebutuhan nyata di lapangan. Karena bagi korban banjir Aceh Tamiang, pemulihan bukan hanya soal membangun kembali rumah tetapi memulihkan rasa aman dan kepercayaan bahwa negara tidak meninggalkan mereka sendirian.
Baca : Bantuan IJTI Tiba di Aceh Tamiang, Warga: Terimakasih Jurnalis Televisi
Di tanah yang masih basah oleh bekas bencana, pesan itu menjadi penting: negara hadir bukan hanya saat air meluap, tetapi juga ketika trauma belum surut.(Wee)



























