Batam, [GT] – Mahalnya harga santan murni di pasar Batam, Kepri, menjadi sorotan Komisi II DPRD Batam. Disinyalir, naiknya harga jual lantaran bahan baku buah kelapa yang diekspor petani ke negeri jiran Singapura dan Malaysia.
Baca : Pasokan Kelapa Minim, Santan Murni Tembus Rp 46 Ribu per Kg di Batam
Ketua Komisi II DPRD Batam Yunus Muda menyoroti keluhan masyarakat terkait harga jual santan yang meningkat drastis. Hasil koordinasi disinyalir rantai pasokan dari daerah penghasil yang terhambat. Para petani menjual hasil taninya ke distributor ke Singapura dan Malaysia.
“Disini peran pemerintah daerah harus aktif mengawasi dan mencari solusi keluhan masyarakat. Harusnya, kebutuhan domestik terpenuhi dahulu baru mengalihkan ke pasat ekspor,” terangnya, Selasa (4/3/25).
Baca : Dinas Penataan Ruang Pemko Semarang Sambangi BP Batam
Yunus menerangkan, pihaknya terus mendorong pemerintah daerah memanfaatkan pulau-pulau di sekitar Batam, untuk budidaya kelapa guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
“Tergantung nanti dari pemerintah, Pulau-Pulau itu kita tanami aja kelapa semua, karena ini menjadi persoalan. Bila sudah surplus, hasil kelapa bisa dialihkan ke luar negeri,” ujarnya.
Baca : Pemko Batam Optimalkan Manfaat Barang Milik Daerah Untuk Dorong PAD
Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis menyebut lonjakan harga ini terjadi karena sebagian besar pasokan kelapa diekspor ke Malaysia dan Singapura yang harga jualnya lebih tinggi dibandingkan pasar lokal.
“Sekarang pasokan langka karena agen eksportir membeli dengan harga lebih tinggi, misalnya Rp10 ribu , sementara harga lokal hanya Rp8 ribu. Ini membuat harga jual santan di pasar menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Dinas Ketahanan Pangan menemukan permasalahan di lapangan, harga santan di Batam mengalami lonjakan drastis dalam beberapa bulan terakhir. Dari harga normal sekitar Rp22 ribu per kilogram, kini santan dijual hingga Rp40 ribu per kilogram.
“Bahkan, di beberapa pasar harga santan mencapai Rp48 ribu per kilogram. Kenaikan ini sudah dikeluhkan masyarakat, terutama pelaku usaha kuliner,” tegasnya.(Prt)



























