Batam, [GT] – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, akhirnya buka suara soal persoalan sampah yang semakin mencolok di berbagai sudut kota. Ia mengakui, masalah ini jauh dari sederhana.
“Persoalan sampah jangan disebut mudah, ini tidak seperti membalik telapak tangan,” katanya, pada awak media, Minggu (16/11/25).
Dalam sembilan bulan pemerintahannya bersama Li Claudia, pembenahan memang berjalan, namun Amsakar tidak menutupi bahwa banyak titik masih belum tersentuh. Dengan produksi sampah mencapai 1.300 ton per hari dan populasi 1,3 juta jiwa.
“Kota Batam menghadapi beban yang terus membesar, sementara tumpukan sampah justru semakin mudah ditemukan di jalan, pasar, hingga perumaha,” ujarnya.
Amsakar menegaskan bahwa sampah dan air bersih merupakan dua persoalan strategis yang perlu penanganan panjang dan melibatkan banyak pihak. Meski Pemko Batam memiliki anggaran, ia mengatakan proses realisasi program tidak bisa instan karena berbagai penyesuaian pascapandemi.
Ia mengaku turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri kondisi yang jauh dari ideal. “Saya lewat, kiri kanan masih terlihat sampah. Ini bukan soal siapa salah, tapi ini yang harus kami benahi,” katanya.
Di sisi lain, penolakan warga terhadap lokasi TPS membuat situasi makin pelik. Sementara itu, realitas di lapangan berbicara lebih keras di Pasar Toss 3000, tumpukan sampah yang tak terangkut selama lebih dari sepekan menimbulkan bau menyengat dan keluhan pedagang.
Di lokasi lain, seperti di simpang kawasan industri Sekupang, tepatnya di setelah trafick light arah ke PLN Sekupang, tumpukan sampah terlihat dari jalan kawasan industri tersebut.
“Setiap hari makin tinggi. Pekerja pabrik dan warga sekitar setiap hari melihat tumpukan dan menghirup aruma tidak sedapnya,” keluh Pendi, warga sekitar.
Masalah menumpuk, keluhan bertambah dan publik menanti apakah komitmen pemerintah benar-benar akan mengubah wajah Batam dari kota bertumbuh menjadi kota yang benar-benar tertata tanpa masalah di kemudian hari.(Ind)



























