Warga Rempang Raih Tasrif Award Dalam Mempertahankan Kampung Adat

tempo.co
Warga Pulau Rempang saat demo menolak di relokasi.(tmp)
Share

Jakarta, [GT] – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menganugerahkan Tasrif Award 2024 pada perjuangan masyarakat Rempang, Batam. Anugrah serupa juga diraih oleh masyarakat adat Awyu, Papua.

Tasrif Award adalah penghargaan yang diperuntukkan perorangan maupun kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat. Tasrif Award adalah penghargaan yang diberikan oleh AJI sejak tahun 1998.

Advertisement

Penilai menganggap, perjuangan masyarakat Melayu Pulau Rempang dalam mempertahankan kampung-kampung adat mereka patut mendapat penghargaan.

Penghargaan ini dinamai dari Suwardi Tasrif, seorang pengacara dan jurnalis yang juga dikenal sebagai pejuang kebebasan pers. Karena dedikasinya, ia kemudian juga dikenal sebagai Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Pengumuman penghargaan Tasrif Award 2024 ini dilaksanakan di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Jumat (9/8/24).

Warga Rempang ambil bagian dalam kegiatan ini melalui dalam jaringan (daring). Mereka antusias dan bersyukur atas apresiasi AJI untuk perjuangan mempertahankan ruang hidup mereka.

Dari Pulau Rempang, mereka mendikasikan penghargaan ini kepada semua masyarakat Indonesia yang tengah berjuang untuk keadilan.

“Penghargaan ini adalah pengingat bahwa kita harus terus bersatu dan memperjuangkan keadilan. Kita harus tegar dan berani dalam menghadapi setiap tantangan yang datang,” kata salah satu warga dalam sambutannya.

Tanah yang ditempati warga Melayu Rempang adalah tanah adat warisan nenek moyangnya sejak ratusan tahun lalu. Tanah adat itu menjadi ruang hidup.

“Tanah adat ini adalah masa depan anak cucu kita,” katanya.

Warga Rempang juga berterimakasih atas dukungan yang diterima. Tim Advokasi Solidaritas Nasional untuk Rempang yang terus membersamai perjuangan mereka.

Siti Hawa atau yang yang di kerap di sapa Mak Aweu (71) warga Pulau Rempang yang ambil bagian menyaksikan penghargaan ini, menuturkan masyarakat terus berjuang untuk menjaga tanah yang telah diwariskan orangtua mereka sejak ratusan tahun lalu ini. Upaya menjaga kampung itu tidak akan berhenti meskipun mereka memgalami intimidasi.

“Pokoknya kami terus tolak relokasi harga mati,” kata Mak Aweu.(*)

Sumber : liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *