Batam, [GT] – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek ikan dingkis selalu diburu masyarakat Tionghoa, yang bermukin di Batam, Kepri dan juga Singapura. Harganya juga melonjak mahal, lantaran tingginya permintaan.
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admaji mengatakan, ikan dingkis identik dengan perayaan Imlek di Batam, Kepulauan Riau dan negara tetangga. Jenis ikan ini juga sebagai komoditas ekspor unggulan di Batam.
“Jenis ikan ini akan dicari dipasar lokal maupun global seperti Singapura, menjelang perayaan Imlek. Hal itu, yang membuat harganya melonjak hingga 300 persen dari harga normal,” katanya, Senin (27/1/25).
Yudi menjelaskan, ikan dingkis juga menjadi komoditas ekspor unggulan saat memasuki perayaan Imlek setiap tahun. Dari data yang diperoleh, nilai ekspor tahun 2024 jenis ikan ini menyumbang Rp17,2 miliar dengan 1.158.874 kilogram pengiriman.
“Ikan ini sebenarnya ada sepanjang tahun, tapi biasanya akan migrasi ke pesisir untuk bertelur saat menjelang perayaan imlek. Biasanya, ikan dingkis betina mengandung telur yang memiliki nilai ekonomis tinggi saat dijual ke Singapura maupun pasar lokal,” ujarnya.
Salah Satu Nelayan Batam, Tayib menjelaskan, yang bikin mahal biasa ikan dingkis yang bertelur, untuk hidangan khas oleh warga Tionghoa kerena dipercaya membawa berkah tersendiri bagi mereka.
“Biasa ikan ini sebagai sajian kuliner yang wajib ada dalam tradisi Imlek untuk disantap bersama keluarga. Harga ikan dingkis melonjak Rp300 ribu per kilo di pasal lokal dan Rp450 ribu di pasar ekspor, sepekan menjelang Imlek hingga H-1. Setelah itu harga normal kembali dikisaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram,” jelasnya.
Diharapkan, perburuan ikan ini oleh nelayan menggunakan alat tangkap yang masih tradisional dan ramah lingkungan untuk menjaga kelestariannya. Jenis ikan ini juga menjadi sumber pendapatan nelayan sejak turun-temurun saat perayaan Imlek setiap tahun yang patut dijaga.(Rpn)



























