Batam, [GT] – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau menyelenggarakan Kepri Economic Forum (KEF) 2025 pada Selasa, (4/11/25).
Forum ini menjadi wadah diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kepulauan Riau dan sarana diskusi strategis untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Bank Indonesia dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang dalam kesempatan ini hadir diwakili oleh Plh. Sekretaris Daerah, Adi Prihantara. Pelaksanaan KEF 2025 mendapat apresiasi luas dari berbagai instansi dan pemangku kepentingan daerah, serta menjadi momentum memperkuat arah kebijakan Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).
Megusung tema “Unlocking Kepri’s Inclusive Growth Potential through the Blue Economy”, kegiatan KEF 2025 digelar di Batam dan dibuka langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto. Dalam keynote speechnya, Bank Indonesia melihat perekonomian Kepri menunjukkan optimisme yang tinggi.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, perekonomian Kepri pada triwulan II 2025 tumbuh sebesar 7,14% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,16% (yoy). Capaian ini sekaligus menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan kinerja ekonomi terbaik di Pulau Sumatera dengan rata-rata kumulatif pertumbuhan ekonomi sebesar 6,15% (ctc) pada semester I 2025.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan perekonomian Provinsi Kepri ditopang oleh Penanaman Modal Tetap Bruto (PTMB) dengan andil sebesar 3,57% (yoy) dan Net Ekspor dengan andil sebesar 2,74% (yoy). Sementara itu, dari sisi Lapangan Usaha, tulang punggung perekonomian Kepri diduduki sektor Industri Pengolahan dengan andil sebesar 2,91% (yoy), Pertambangan 2,18% (yoy), dan Konstruksi 1,46% (yoy). Secara struktur, Industri Pengolahan mendominasi 41,4% dari keseluruhan perekonomian Kepri dengan industri terpusat di Kota Batam. Adapun kontribusi Batam mencapai 66% terhadap PDRB Kepri, menunjukkan perlunya sinergi antarwilayah untuk mendorong pemerataan dan inklusivitas ekonomi. “Di tengah segala catatan positif yang membawa optimisme tinggi terhadap perekonomian Kepri, kita masih menghadapi tantangan yang perlu menjadi perhatian. Dispartitas ekonomi antar kabupaten di Kepri masi terjadi, dengan Batam menjadi penopang utama, sementara wilayah lain perlu peningkatan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan,” ujar Rony Widijarto. Sementara itu, inflasi Provinsi Kepri pada Oktober 2025 terjaga di angka 3,01% (yoy), masih berada dalam sasaran 2,5 ±1%.
Dari sisi perbankan, kinerja perbankan terpantau kuat pada September 2025 dengan pertumbuhan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) masing-masing sebesar 20,61% (yoy), 13,14% (yoy), dan 14,06% (yoy). Selain itu pada sistem pembayaran, kinerja digitalisasi ekonomi terus meningkat, tercermin dari capaian pertumbuhan volume dan transaksi QRIS yang hingga September 2025 masing-masing tumbuh sebesar 181.93% (yoy) dan 140,62% (yoy), termasuk pertumbuhan signifikan pada pemanfaatan QRIS Cross-Border yang kini dapat digunakan di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Keberadaan Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia turut menjadi pendorong utama dalam peningkatan akseptasi QRIS Cross-Border di wilayah Kepri.
Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia, Kepri berpotensi untuk dapat terus didiorong menjadi sentra pengembangan ekonomi maritim. Cakupan laut Kepri yang mencapai 96% menjadikan Kepri memiliki ruang optimalisasi. Data tahun 2024, sektor perikanan Provinsi Kepri menghasilkan 379 ribu ton, dengan Natuna memiliki andil sebesar 143 ribu ton. Peluang ekonomi biru Kepri menjadi angin segar bagi struktur perekonomian Kepri, khususnya dalam menciptakan ekonomi inklusif bagi masyarakat pesisir.
Melalui hilirisasi, potensi ekonomi biru juga berpeluang menggerakkan industri pengolahan. “Tentu sumber daya laut yang harus kita gali, karena potensi maritim tidak hanya terbatas pada perikanan, namun juga dapat menggerakkan perniagaan, termasuk di antaranya industri perkapalan,” jelas Adi Prihantara.
Sebagai rangkaian dari Kegiatan KEF 2025, turut diselenggarakan talkshow menghadirkan akademisi dan narasumber ahli di bidang perekonomian antara lain Guru Besar FEB Universitas Padjajaran, Prof. Arief Anshory Yusuf S.E., M.Sc., Ph.D, Direktur Pemberdayaan Usaha Kementerian kelautan dan Perikanan, Catur Surwanto, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Kepulauan Riau, Luki Zaiman Prawira S.STP., M.Si. Sesi talkshow mengulas peluang perekonomian biru sebagai sektor alternatif untuk memperkuat sektor ekonomi utama existing yakni maknufaktur. Diskusi juga membagas arah kebijakan pengembangan perekonomian biru Provinsi Kepri khususnya untuk pasar ekspor.
Dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, perbankan, akademisi, media, serta pelajar dan mahasiswa, acara berlangsung produktif menghasilkan ide inovatif untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kepri. Melalui sinergi lintas instansi, menunjukkan komitmen Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Kepri dalam optimalisasi peluang ekonomi biru untuk menciptakan perkembangan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.(*)



























