Batam, [GT] – Menjelang waktu berbuka, kawasan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah di Batam berubah menjadi magnet spiritual sekaligus destinasi favorit warga. Langit perlahan menguning keemasan, memantul di kubah megah yang berdiri gagah sebagai salah satu masjid terbesar di Indonesia. Suasana yang tercipta bukan sekadar menunggu adzan, tetapi sebuah pengalaman batin yang sulit dilukiskan.
Ngabuburit di sini punya rasa yang berbeda. Pelataran masjid dipenuhi jemaah dari berbagai penjuru Batam. Ada yang duduk bersila sambil berdzikir, ada yang berbincang pelan, dan tak sedikit yang mengabadikan momen senja dengan ponsel. Angin sepoi-sepoi menambah syahdu, seakan mengajak setiap orang untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia.

Di sudut-sudut halaman, aktivitas kecil penuh makna terlihat. Anak-anak berlarian riang, keluarga berkumpul, hingga para musafir yang singgah mencari ketenangan. Semua menyatu dalam satu irama: menanti maghrib. Tak ada kegaduhan, hanya ketenangan yang mengalir pelan.
Ketika adzan berkumandang, suasana mendadak hening. Detik-detik itu selalu menghadirkan rasa haru. Kurma, air mineral, dan hidangan sederhana menjadi saksi kebersamaan yang hangat. Tidak penting seberapa mewah menu berbuka, karena yang utama adalah rasa syukur dan kebersamaan.
Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial dan spiritual yang hidup. Setiap Ramadhan, masjid ini menjadi titik temu emosi, refleksi, dan kebahagiaan sederhana. Ngabuburit di sini bukan sekadar tradisi, melainkan ritual batin yang membuat banyak orang selalu ingin kembali.(*)



























