Prabowo Disambut Upacara Kerajaan Yordania di Amman, Diplomasi Indonesia Curi Perhatian Timur Tengah

(Ist_)
Share

Amman, [GT] – Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan resmi dengan Abdullah II ibn Al Hussein di Istana Basman, Rabu (25/2). Pertemuan yang dismbut upacara kerajaan ini, dinilai sebagai langkah diplomasi Jakarta menanggapi geopolitik yang berkembang akhir-akhir ini.

Kedatangan kepala negara Indonesia disambut dengan protokol kerajaan penuh kehormatan tiupan terompet, pasukan jajar kehormatan, serta upacara resmi yang memperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara. Simbolisme ini menegaskan bobot hubungan bilateral sekaligus menandakan pentingnya posisi Indonesia dalam peta diplomasi kawasan.

Advertisement

Di balik formalitas istana, agenda utama pertemuan berfokus pada isu-isu strategis: stabilitas regional, kerja sama pertahanan, hingga kolaborasi kemanusiaan. Sumber diplomatik menilai dialog ini relevan dengan meningkatnya ketegangan dan realignmen politik di Timur Tengah, di mana negara-negara mencari mitra baru yang kredibel dan netral.

Tahun 2026 sendiri menjadi tonggak historis, menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Yordania. Selama lebih dari tujuh dekade, relasi kedua negara berkembang melampaui hubungan tradisional, mencakup sektor politik, ekonomi, pendidikan, serta keamanan.

Yordania memiliki arti strategis bagi Jakarta. Selain sebagai mitra politik moderat di kawasan, negara tersebut dipandang sebagai simpul logistik dan pintu masuk penting Indonesia di Timur Tengah. Posisi geografis dan stabilitas domestik Yordania menjadikannya pemain kunci dalam arsitektur diplomasi regional.

Pertemuan Prabowo dan Raja Abdullah II juga dibaca sebagai sinyal perluasan peran global Indonesia. Dalam lanskap internasional yang semakin multipolar, Jakarta tampak memperkuat jejaring di kawasan yang memiliki dampak langsung terhadap keamanan energi, perdagangan, dan stabilitas global.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, diplomasi tingkat tinggi semacam ini menunjukkan bagaimana Indonesia berupaya memainkan peran lebih aktif, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor yang membangun keseimbangan dan kerja sama lintas kawasan.(WE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *