Batam, [GT] – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menunjukkan kinerja impresif. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada Triwulan II 2026 tumbuh 6,99 persen (year on year/yoy).
Angka tersebut menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera yang sebesar 5,06 persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran. Masing-masing sektor mencatat pertumbuhan 6,11 persen, 6,06 persen, 9,26 persen, dan 10,58 persen secara tahunan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ardhianus, mengatakan ketahanan ekonomi Kepri tidak lepas dari tingginya aktivitas investasi dan meningkatnya permintaan industri berorientasi ekspor.
“Industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Kepri, didukung tingginya permintaan global terhadap chipset untuk kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Selain itu, pembangunan kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, serta data center di Batam juga terus mendorong sektor konstruksi tumbuh kuat,” ujar Ardhianus, dalam keterangan Jumat (7/8/26).
Dari sisi pengeluaran, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 24,08 persen (yoy) dan memberikan andil 10,02 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini didukung masuknya investasi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di berbagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kepri.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga dengan pertumbuhan 4,06 persen (yoy), sejalan dengan optimisme masyarakat yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) rata-rata sebesar 120,72 selama Triwulan II 2026.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat inflasi Kepri pada Juli 2026 berada di level 4,24 persen (yoy). Namun secara bulanan, Kepri mengalami deflasi 0,23 persen (month to month/mtm) yang dipengaruhi penurunan harga emas perhiasan, tarif angkutan udara, cabai merah, kacang panjang, dan sawi hijau.
Menurut Ardhianus, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan bersama pemerintah daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengendalikan inflasi.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus bersinergi dengan pemerintah melalui kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta penguatan koordinasi bersama TPID agar inflasi tetap terjaga dalam sasaran dan pertumbuhan ekonomi Kepri tetap berkelanjutan,” tutupnya.(Rls)

























