DAERAH  

Gebyar Melayu Pesisir 2026: Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan

Kepala BI Kepri Rony Widijarto saat ditemui awak media di Batam.(GRTT/Nug)
Share

Batam, [GT] – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (BI Kepri) kembali menyelenggarakan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 pada tanggal 14–20 September 2026 di K-Square Mall, Batam, dengan mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”

Melalui GMP 2026, BI Kepri mendorong penguatan warisan budaya Melayu sebagai salah satu sumber penciptaan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan pariwisata, sekaligus memperluas digitalisasi dan akses pasar bagi pelaku usaha di Kepulauan Riau.

Advertisement

Penyelenggaraan GMP 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang tetap kuat dan semakin inklusif. Pada triwulan II 2026, perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap tumbuh kuat sebesar 6,99% (yoy), termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,04% (yoy) namun tercatat masih yang tertinggi di Sumatera. Capaian ini juga lebih baik dibanding pertumbuhan Sumatera sebesar 5,06% (yoy). Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran. Adapun dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2026 didorong oleh pertumbuhan positif pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)  sebesar 24,08% (yoy) didukung oleh meningkatnya aktivitas investasi data center  di Batam.

Sejalan dengan kinerja ekonomi yang kuat, stabilitas sistem keuangan Kepri tetap terjaga dan terus mendukung pembiayaan perekonomian daerah. Pada Juli 2026, penyaluran kredit perbankan di Kepri mencapai Rp119,02 triliun atau tumbuh sebesar 36,16% (yoy), disertai Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp103,46 triliun atau 13,53% (yoy). Fungsi intermediasi perbankan tetap kuat disertai dengan risiko kredit yang tetap terkendali sebagaimana ditunjukkan oleh rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,01%. Penyaluran kredit UMKM pada periode yang sama turut tumbuh sebesar 10,05% (yoy), di atas nasional yang tumbuh sebesar 1,60% (yoy) dengan rasio NPL terjaga sebesar 2,54%.

Inflasi Kepri pada Agustus 2026 tercatat deflasi 0,17% (mtm), atau secara kumulatif mencapai 1,46% (ytd). Secara tahunan, inflasi Kepri tercatat sebesar 3,87% (yoy), menurun dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 4,24% (yoy), namun masih berada di atas batas atas sasaran inflasi. Perkembangan tersebut perlu terus dicermati, khususnya berkaitan dengan pergerakan harga pangan, transportasi, dan potensi rambatan kenaikan harga energi dan komoditas . BI Kepri terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Secara keseluruhan tahun 2026, perekonomian Kepri diprakirakan tumbuh dalam kisaran 6,3–7,1% (yoy). Prospek tersebut tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko, antara lain berlanjutnya ketidakpastian global, disrupsi rantai perdagangan, perkembangan kebijakan perdagangan negara mitra, serta volatilitas harga energi dan komoditas global. Sementara itu, dengan dukungan konsistensi kebijakan dan penguatan sinergi pengendalian inflasi, inflasi Kepri pada tahun 2026 diprakirakan tetap berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy).

Dari sisi digitalisasi sistem pembayaran, akseptasi penggunaan QRIS menunjukan tren pertumbuhan signifikan. Hingga Juli 2026, secara volume mencapai 87,62 juta transaksi atau tumbuh sebesar 108,61% dan secara nominal sebesar Rp9,94 triliun atau tumbuh sebesar 85,95% (yoy). Selain itu, jumlah merchant QRIS mencapai 483.299 merchant dengan 95,83% diantaranya merupakan merchant UMKM. QRIS juga mendukung kemudahan transaksi wisatawan mancanegara melalui QRIS cross border. Hingga Juli 2026 nominal transaksi QRIS cross border oleh wisatawan asal Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, dan Tiongkok mencapai Rp169,95 miliar atau meningkat sebesar 1.866,41%(ytd) atau 720,85%(yoy). Sementara, volume transaksi mencapai 461.198 transaksi atau meningkat 1639,98%(ytd) atau 551,73% (yoy). Implementasi QRIS antarnegara diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan dalam bertransaksi sekaligus memperkuat posisi Kepri sebagai destinasi yang adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.

Ke depan, penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu terus diakselerasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor-sektor utama dan memperluas dampak pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat. Peningkatan nilai tambah UMKM menjadi salah satu strategi penting, terutama melalui penguatan produk unggulan daerah, promosi kuliner dan destinasi wisata, serta peningkatan keterhubungan UMKM. BI Kepri terus berkontribusi dalam mengakselerasi pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yaitu korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan. Semangat tersebut diwujudkan melalui rangkaian Gebyar Melayu Pesisir 2026, yang menghadirkan berbagai kegiatan berupa expo, fashion show, talkshow, business matching, workshop, kompetisi, charity run, serta festival kuliner nusantara. Berbagai kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara UMKM, pelaku ekonomi kreatif, industri, perbankan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam memperluas pasar sekaligus mengangkat kekayaan budaya Melayu sebagai sumber nilai tambah ekonomi. GMP 2026 juga akan dimeriahkan oleh live music performance yang terbuka untuk dinikmati oleh masyarakat Kepri.

Melalui penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, TPID, perbankan, pelaku industri, pelaku UMKM, serta masyarakat, BI Kepri berkomitmen untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang semakin inklusif dan berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *