Batam, [GT] – Kabar membanggakan datang dari UMKM Batam, Kepri. Batik Tenun Arios, usaha yang memproduksi tenun khas Batam dan merupakan mitra binaan Pertamina Patra Niaga, berhasil menembus 20 besar nasional program UMK Academy.
Pencapaian tersebut menjadi peluang bagi Batik Tenun Arios untuk memperluas pasar, meningkatkan inovasi, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal Kepulauan Riau.
Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan Batik Tenun Arios mulai menjadi mitra binaan melalui program UMK Academy pada 2024.
Menurutnya, peserta UMK Academy harus melewati proses seleksi dan kurasi berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari profil usaha, omzet, lama bisnis berjalan hingga jangkauan pasar.
“Dari seribu lebih peserta, kemudian diseleksi secara bertahap hingga menjadi 20 besar,” ujar pemilik Batik Tenun Arios, Atik Aritonang.
Selama mengikuti program sekitar delapan bulan, Atik mendapatkan berbagai pelatihan bisnis, termasuk Go Modern, Go Global, Go Online dan Go Digital. Ia juga mendapat pembelajaran mengenai pembuatan konten, media sosial hingga pemanfaatan e-commerce.
Atik berharap pembinaan tidak berhenti pada pelatihan. Ia mengusulkan agar Pertamina menyediakan galeri atau rumah UMK di Batam sebagai tempat promosi bersama produk UMKM binaan.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari Pertamina. Fahrougi menyebut rencana kegiatan promosi dan ekspo UMK di wilayah Kepulauan Riau akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan pembinaan ke depan.
Pertamina berharap keberhasilan Batik Tenun Arios dapat menjadi contoh bahwa produk lokal Batam mampu bersaing di tingkat nasional jika didukung penguatan kapasitas, inovasi, digitalisasi dan akses pasar.
Dengan masuknya Batik Tenun Arios ke 20 besar nasional, peluang tenun khas Batam untuk semakin dikenal di luar daerah pun terbuka semakin lebar.
Pemilik Batik Tenun Arios, Atik Aritonang, mengatakan keberhasilan masuk 20 besar nasional tidak diraih dengan mudah. Peserta UMK Academy harus melewati proses seleksi secara bertahap dengan jumlah peserta yang terus menyusut.
Menurut Atik, seleksi awal diikuti lebih dari 1.000 UMK. Jumlah tersebut kemudian disaring melalui beberapa tahapan hingga akhirnya tersisa 20 peserta terbaik. “Kita ada sistem ukur. Dari seribu lebih, 800, 600, sampai 150, kemudian menjadi 20 orang. Itu diseleksi,” kata Atik.
Selama mengikuti UMK Academy, Atik menjalani proses pembelajaran selama sekitar delapan bulan. Selain pelatihan secara daring, peserta juga diberikan sejumlah tugas yang bertujuan meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan bisnis.
Salah satu materi yang dinilai penting bagi pengembangan Batik Tenun Arios adalah pengelolaan konten serta pemanfaatan media digital sebagai sarana pemasaran. “Walaupun kita online, kita belajar hampir satu tahun, sekitar delapan bulan. Banyak tugas yang diberikan. Saya juga banyak belajar tentang konten,” ujarnya.(*)



























