Jakarta, [GT] – Sengketa kepemilikan lahan membuat aktivitas di Club de Arjuna, Jalan Raya Kedoya, Jakarta Barat, terhenti selama hampir dua bulan.
Di balik persoalan hukum tersebut, ratusan pekerja kini harus menghadapi persoalan lain yakni kehilangan penghasilan.
Kondisi itu terlihat saat ratusan karyawan PT HD Arjuna menggelar aksi unjuk rasa di depan area usaha mereka, Kamis (17/9/26).
Baca : Dua Korban Luka Dugaan Kericuhan di Club de Arjuna Minta Polisi Usut Penyerangan
Membawa sejumlah spanduk, para pekerja meminta tempat mereka mencari nafkah kembali dibuka agar dapat bekerja seperti sebelumnya. Bagi para karyawan, penutupan tempat usaha bukan sekadar persoalan operasional.
Terhentinya aktivitas Club de Arjuna turut memutus sumber pendapatan yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Deby, salah satu karyawan, mengaku harus mencari pekerjaan lain agar tetap bisa bertahan. Ia memilih berjualan kerupuk untuk mendapatkan pemasukan selama tidak dapat bekerja di tempatnya semula.
Baca : Hina Advokat, WNA Inggris Dilaporkan PPKHI Kota Batam
Kisah tersebut menjadi gambaran kondisi sejumlah pekerja yang terdampak penutupan usaha akibat sengketa lahan yang hingga kini masih berproses melalui jalur hukum.
Sengketa tersebut melibatkan PT HD Arjuna dengan pihak yang mengklaim sebagai ahli waris, yakni H Sulardi dan Ahmad Mawardi.
Di tengah proses hukum yang berjalan, para pekerja berharap ada jalan keluar yang memungkinkan mereka kembali mendapatkan penghasilan.
Koordinator lapangan aksi, Venny, meminta pemerintah daerah ikut memperhatikan kondisi para pekerja yang terdampak. Ia berharap Gubernur dan Wali Kota dapat melihat langsung persoalan yang dihadapi para karyawan.
“Kami akan terima bila yang melakukan eksekusi aparat penegak hukum atau pengadilan. Tapi ini dari oknum ormas, di mana logika perfikir,” katanya di lokasi aksi.
Baca : Dorong RUU Advokat, Rekernas ke IV Peradi Resmi Dilaksanakan di Batam
Para pekerja juga berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kota Jakarta Barat untuk menyampaikan kondisi mereka sekaligus meminta solusi atas terhentinya aktivitas kerja.
Aksi berlangsung tertib dengan pengamanan dari ratusan personel Polres Jakarta Barat. Sementara itu, akses menuju area kantor tampak ditutup dan dijaga oleh massa dari salah satu organisasi kemasyarakatan.(Dik)



























