Kadin Soroti Tarif Resipokal Trump, Makruf: Kami Akan ke AS Mengikuti Negosiasi

Share

Batam, [GT] – Kabijakan tarif resipokal sebesar 32 persen oleh Presiden Amerika Sarikat (AS) Donald Trump terhadap produk impor dari Indonesia berdampak signifikan terhadap industri ekspor di kota Batam, Kepulauan Riau.

Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang KEK dan Pengembangan Investasi Akhmad Makruf Maulana menerangkan, dengan adanya pemberlakuan tarif baru ini dinilai dapat menurunkan nilai ekspor Batam diperkirakan jutaan dolar per bulan.

Advertisement

“Artinya Batam yang 25 persenya industri berafiliasi ekspor ke AS sangat terdampak, hal ini dilihat dari lapangan kerja. Seperti sektor industi semikonduktor, elektronik, mesin dan produk logam dan turunanya mengalami tekanan berat,” katanya.

Makruf merincikan, ada sekitar 27 perusahaan solar panel di Batam yang menghasilkan produk ekspor ke AS, dengan adanya tarif tersebut dirasa akan berdampak pada pengurangan produksi sehingga tak bisa terhindarkan pengurangan tenaga kerja.

“Ada ancaman PHK di perusahaan dalam kawasan industri, yang mana rata-rata mempekerjakan sekitar 4.500-10.000 pekerja akan sangat tertekan untuk melakukan efisiensi produktifitas usaha. Termasuk pengurangan pekerja secara besar-besaran,” ujarnya.

Menurut Makruf, saat ini industri Batam didorong untuk memperluas ekspor ke pasar lain seperti Uni Eropa, Asean, Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika. Meski, Pemerintah RI sedang beruoaya melakukan perundingan dengan negara Paman SAM tersebut.

“Kalau negosiasi pemerintah Indonesia dengan Amerika tidak sepakat maka akan timbul dampak PHK sekitar 10.000 pekerja secara langsung. Kami akan menyusul ke AS besok untuk mengikuti perjanjian antara AS dan RI. Kami berharap negosiasiI berhasil supaya target pertumbuhan RI tercapai,” jelasnya.

Disimpulkannya, kebijakan tarif resipokal pemerintah AS memberikan tantangan besar bagi industri ekspor di Batam, namun juga membuka peluang untuk perkuat struktur ekonomi melalui diversifikasi pasar dan peningkatan efisiensi.

Langkah strategis pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat memitigasi dampak negatif dan menjaga stabilitas ekonomi di kawasan tersebut.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *