QR Saja, Boleh

GARTTA
Ilustrasi penggunaan QRIS dalam transaksi pembayaran digital.(GRTT/Ist)
Share

Batam, [GT] – Kini siapa yang tidak familiar dengan transaksi pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari Bank Indonesia yang berhasil menyatukan sejumlah sistem pembayaran digital dalam satu genggaman.

Mukin metode transaksi keuangan seprti ini, tak pernah terpikirkan oleh pengelola rumah makan atau toko produk UMKM di pasar dan Bandara atau Pelabuhan. Tapi kini, pembayaran lintas negara bukan lagi monopoli kartu kredit atau dompet digital internasional yang berbasis di Amerika atau Eropa.

Advertisement

Bahkan negeri paman Sam terkesan mulai merasa keberatan dengan keberadaan QRIS untuk dapat dipergunakan lintas negara. Belum lama ini, Presiden Amerika Donald Trump menyatakan secara terbuka keberatanya, lantaran dirasa dapat menyaingi MasterCard atau Visa milik mereka.

Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada Agustus 2019, QRIS telah menjadi sistem pembayaran standar nasional yang berhasil menyatukan pelbagai metode transaksi dengan platform digital secara efektif dan efisien. Jumlah transaksi dan nominal juga terus meningkat setiap tahun.

Menjangkau Penggerak Ekonomi Mikro

Ada sepenggal kisah tentang QRIS, dari Rianti pengelola rumah makan di sekitar Pelabuhan Batam Center, Batam, yang telah mengikuti program BI Kepri. Kata dia, suara turis dengan logat berbeda selalu terdengan saat berkata QR saja boleh setiap kali ingin melakukan pembayaran di kasir.

“Kebanyakan warga Singapura dan Malaysia yang baru saja menyeberang dengan kapal feri dari Johor Bahru atau Harberfront. Mereka biasa membuka aplikasi DuitNow di ponsel untuk memindai stiker QRIS di meja kasir, transaksi dengan mudah seakan sekedip mata,” katanya, dua hari lalu.

Dalam perkembangan zaman dari segi teknologi dan ekonomi digital, QRIS mungkin hanya potongan kecil dari revolusi besar. Namun, bagi jutaan pelaku UMKM, QRIS Cross Border adalah harapan agar mereka tak lagi tertinggal, agar dagangannya bisa bersaing, produknya bisa dipasarkan secara regional supaya masa depan tak melulu milik mereka yang besar dan kuat.

Cerita lainnya terdengar dari sudut pasar tradisional yang riuh di pinggiran Kota Batam, Ibu Siti, 52 tahun, menyusun dagangannya sejak pukul lima pagi. Cabai, tomat, bawang, dan daun sop tertata rapi di atas meja kayu.

Seorang pembeli mendekat, memilih beberapa kantong, dan dengan senyum, mengarahkan kamera ponsel ke stiker kecil di sisi meja, QRIS kode batang berwarna hitam putih yang kini menjadi teman setia para pedagang kecil.

“Saya dulu gaptek, mana ngerti beginian,” ujar Ibu Siti sambil tertawa kecil. “Tapi anak saya ajarin, katanya biar kekinian.”

QRIS, atau Quick Response Code Indonesian Standard, bukan sekadar alat pembayaran digital. Di tangan pelaku UMKM seperti Ibu Siti, QRIS menjadi pintu menuju inklusi keuangan yang selama ini hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar.

Perubahan Senyap di Pasar Tradisional

Diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 2019, QRIS kini sudah digunakan oleh lebih dari 30 juta merchant di seluruh Indonesia per akhir 2024. Angka tersebut tumbuh pesat dari hanya 3,6 juta merchant di tahun pertama. Sekitar 90% pengguna QRIS berasal dari sektor UMKM, menandai sebuah lompatan digital yang mengejutkan dari sektor yang sebelumnya identik dengan uang tunai dan catatan manual.

“Dengan QRIS, saya nggak perlu repot cari kembalian. Semua tercatat otomatis. Malah sekarang bisa pinjam ke bank karena ada histori transaksi,” jelas Pak Roni, penjual ayam goreng keliling yang menerima pembayaran lewat dompet digital.

Mendorong UMKM Naik Kelas

Menurut riset dari Lembaga Demografi UI, penggunaan QRIS meningkatkan potensi pendapatan UMKM sebesar 8–15% karena mempercepat transaksi dan menjangkau konsumen milenial yang lebih suka cashless. QRIS juga membantu pelaku usaha kecil untuk bisa mengakses layanan keuangan formal seperti kredit usaha rakyat (KUR).

“Dulu saya cuma nyimpen duit di kaleng biskuit,” ujar Bu Siti sambil tersenyum. “Sekarang langsung masuk ke rekening, bisa saya pantau lewat HP.”

Bank Indonesia dan pemerintah daerah kini juga mendorong program digitalisasi pasar lewat edukasi QRIS, bahkan menyasar pedagang keliling dan PKL. Batam, misalnya, menjadi salah satu kota yang aktif mengadakan pelatihan gratis dan memberikan insentif bagi UMKM yang go digital.

Bukan Sekadar Alat Bayar

Lebih dari sekadar alat transaksi, QRIS juga mengubah cara masyarakat melihat uang dan bertransaksi. Anak muda kini bisa beli kopi di warung atau gorengan di pinggir jalan tanpa uang tunai. Pedagang kecil bisa ikut festival digital, membuka jalan kolaborasi dengan e-commerce, dan bahkan mendapat akses pendanaan dari fintech.

Namun, tantangan tetap ada. Masih banyak daerah yang kesulitan sinyal, pelaku usaha lansia yang butuh pendampingan, dan konsumen yang khawatir soal keamanan data.

“Tapi ini proses. Sama seperti dulu waktu orang takut pakai ATM, kuncinya edukasi dan kesabaran,” kata Andi Siregar, pegiat literasi digital dari komunitas Sahabat UMKM.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *