Ekosistem Mangrove Bagi Kearifan Lokal

Share

Batam, [GT] – Ekosistem mangrove di Kepulauan Riau, memang tak bisa dipisahkan dari masyarakat pesisir yang notabene masih menjunjung tinggi adat istiadat sebagai kearifan lokal.

Kota Batam sebagai daerah kepulauan di perbatasan tentu memiliki ekosistem mangrove yang perlu dilestarikan. Pemerintah kota Batam terus mengembangkan kelestarian ekosistem yang ada di pessisir. Ha itu untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat disekitarnya.

Advertisement

• Gubernur Ansar Tanam Mangrove di Kawasan Mangrove Presiden Bersama Masyarakat Setokok Batam

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi dan Wakilnya Amsakar Ahcmad terus menggalakan pelastrian tanaman yang sangat berperan dalam mengontrol kwalitas kehiduan biota disekitarnya tersebut.

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Ahcmad senantiasa melaksanakan penanaman pohon Mangrove di pantai yang ada di Batam. Seperti di Pulau Setokok Jembatan 3 Barelang. Pemko mengapresiasi kegiatan penanaman pohon Mangrove yang digelar secara serentak di jajaran Polda Kepulauan Riau (Kepri) pada tahun 2023 lalu.

Atas nama Pemerintah Kota Batam, Semoga Mangrove yang ditanam tumbuh sehingga dapat menjaga kelestarian lingkungan laut kita. Karena kelestarian mangrove dapat mencega dampak lingkungan seperti abrasi dan ekstraksi daerah pesisir.

Kehadiran seluruh stake holder dalam acara penanaman pohon Mangrove pagi itu mencerminkan dukungan untuk pengembangan mangrove sebagai destinasi wisata potensial.

• HUT Humas Polri Ke-72 Dirayakan Dengan Gerakan Pelestarian Lingkungan

Kehadiran pemerintah kota ini tercermin sebagai bentuk kepedulian semua pihak untuk menjaga kelestarian laut.

“Secara serentak penanaman Mangrove di jajaran Polda Kepri hari ini kita laksanakan. Ada 5 ribu pohon Mangrove yang kita siapkan dan untuk di Pulau Setokok ini akan kita tanam sebanyak 2 ribu,” sebutnya.

Banyaknya gugusan Pulau menjadi salah satu alasan perlunya penanaman mangrove agar dapat dikembangkan sebagai potensi pariwisata yang menjunjung tinggi kearifan lokal. Mangrove ini manfaatnya sangat beraga. Agar Pulau terjaga dan tidak terkikis air maka perlu Mangrove untuk mempertahankan ekosistem yang ada di laut.

“Mari kita jaga kelestarian lingkungan dan kelestarian alam. Dan menjaga dari kerusakan lingkungan. Dengan menanam Mangrove hari ini bisa mengembalikan kelestarian dan kerusakan yang ada di laut,” begitu pesan Amsakar kepada masyarakat yang hadir saat iti.

KKP Hentikan Proyek Reklamasi Galangan Kapal di Batam

Setiap negara di dunia itu memiliki keunikannya tersendiri, termasuk juga negara Indonesia. Negara kita begitu unik, saking uniknya kalau ada nominasi untuk negara yang paling unik, maka Indonesia pasti masuk sebagai salah satu nominasinya, bahkan, mungkin keluar sebagai juaranya.

Keunikan Indonesia sendiri berasal dari adat istiadat, tradisi, dan kearifan lokal yang ada di Indonesia khususnya Kota Batam, Kepulauan Riau. Bukan hanya satu, setiap daerah bahkan memiliki kearifan lokalnya masing-masing.

Untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, para orang tua dari generasi sebelumnya, dan lebih tua akan mewariskannya kepada anak-anak mereka dan begitu seterusnya.

Mengingat kearifan lokal adalah pemikiran yang sudah lama dan berusia puluhan tahun, maka kearifan lokal yang ada pada suatu daerah jadi begitu melekat dan sulit untuk dipisahkan dari masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.

Mirisnya, meski banyak orang tua tetap berusaha mewariskan kearifan lokal dan pandangan hidup yang mereka dapatkan dari nenek moyang, tetapi banyak anak muda justru menganggap kearifan lokal dan pandangan hidup tradisional yang sudah turun-temurun dari nenek moyang adalah

Dengan kearifan lokal, maka tatanan sosial dan alam sekitar agar tetap lestari dan terjaga. Selain itu, kearifan lokal juga merupakan bentuk kekayaan budaya yang harus digenggam teguh, terutama oleh generasi muda untuk melawan arus globalisasi. Dengan begitu karakteristik dari masyarakat daerah setempat tidak akan pernah luntur.

Apalagi, kearifan lokal berasal dari nenek moyang kita, yang jelas lebih mengerti segala sesuatunya terutama yang berkaitan dengan wilayah tersebut. Selain itu, ada kebijaksanaan dan juga hal baik dalam kearifan lokal tersebut, tetapi terkadang sulit dimengerti oleh anak muda dari generasi sekarang.

Tidak hanya itu, seiring berjalannya waktu, budaya asing juga mulai merambah ke berbagai wilayah di Indonesia. Sebaliknya, Indonesia memiliki banyak kearifan lokal yang juga mengandung nilai-nilai budaya yang sangat kuat.

Usia dari nilai budaya itu sendiri sudah mencapai puluhan atau ratusan tahun, nilai-nilai budaya pada kearifan lokal ini sangat dipercaya oleh masyarakat setempat.

Masyarakat pesisir tentu tidak asing dengaan tanaman angrove. Seperti Suku Laut yang merupakan salah satu suku bangsa yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Beberapa di antara mereka masih hidup secara nomaden, bertempat tinggal di sampan kecil dan berpindah-pindah dengan berlayar di laut secara berkelompok. Oleh karena itu mereka juga disebut Sea Nomads, Sea.

Mata pencaharian utama mereka adalah sebagai nelayan dengan peralatan yang teknologi yang masih sederhana. Mereka juga memiliki kearifan/pengetahuan tentang gejala alam seperti musim, angin, pasang surut air laut dan sebagainya yang mereka warisi dari orang tua dan nenek moyang mereka.

Salah satu hal yang bisa dipetik dari cara hidup Orang Laut dalam memanfaatkan laut dan isinya adalah mereka tidak menggunakan cara-cara yang merusak ekosistem biota laut.

Teknologi penangkapan ikan yang mereka gunakan sangat ramah lingkungan. Mereka sadar bahwa keberlangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka sangat bergantung dengan laut dan isinya.

Pemerintah Kota Batam kini tengah menggenjot perkembangan destinasi wisata pesisir. Salah satunya memanfaatkan mangrove sebagai deatinasi wisata kelas dunia. Tentu hal itu akan terwujud dengan melestarikan kehidupan dan kerifan lokal warga pesisir sebagai nilai tambah.

Beberapa kali Amsacar Ahcmad berkunjung di Kecamatan yang ada di pesisir pulau. Pesannya selalu sama, agar masyarakat terus melestarikan mangrove sebagai punggung penggerak roda perekonomian disekitar.

Caranya bagaimana, pastilah dengan masyarakat mengamalkan nilai budaya dan mengsingkronisasikan karakteristilk di setiap daerah. Batam sebagai daerah perbatasan memiliki nilai tambah untuk meningkatkan potensi pariwisata pesisir dengan meleatarian kearifan lokal itu sendiri.

Niatnya mulia, tapi pemerintah daerah tentu harus merangkul masyarakat pesisir agar sejalan dengan apa yang diupayakan. Pastilah, upaya itu dirasa akan semangkin mempercepat transformasi Batam sebagai kota Pariwisata tingkat dunia yang memanfaatkan mangrove sebagai tujuan wisata dan kearifan lokal sebagai sebuah kehiduan yang dikemas agar sejalan dengan alam.(Rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *