Jakarta, [GT] – Gaya hidup cashless makin jadi pilihan masyarakat Indonesia. Data terbaru dari Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS pada Januari 2026 melonjak 131,47 persen (yoy).
Total transaksi pembayaran digital pun menembus nominal Rp 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65 persen (yoy) dari tahun sebelumnya.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa akselerasi digitalisasi pembayaran menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional.
“Transaksi ekonomi dan keuangan digital terus tumbuh tinggi didukung sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. QRIS menjadi salah satu pendorong utama inklusi keuangan dan penguatan konsumsi domestik,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG Februari 2026.
Lonjakan QRIS didorong peningkatan jumlah pengguna dan merchant, terutama dari sektor UMKM, ritel, kuliner, hingga transportasi. Tren pembayaran cukup dengan scan barcode kini bukan sekadar kemudahan, tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle masyarakat urban maupun daerah.
Tak hanya QRIS, transaksi melalui BI-FAST juga tumbuh 34,41 persen (yoy) dengan nilai mencapai Rp1.176 triliun. Kinerja ini memperlihatkan kepercayaan publik terhadap sistem pembayaran nasional semakin kuat.
Di tengah ketidakpastian global dan dinamika nilai tukar, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan transformasi digital.
Dengan QRIS yang kian meroket dan ekosistem digital yang semakin luas, 2026 menjadi momentum emas bagi ekonomi digital Indonesia di mana transaksi nontunai bukan hanya tren, tetapi wajah baru gaya hidup kekinian masyarakat.(Nca)


























