Jakarta, [GT] – Fenomena “beli sekarang, bayar nanti” kian menjelma menjadi pedang bermata dua bagi perekonomian nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total utang masyarakat melalui skema Buy Now Pay Later (BNPL) di sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan telah menembus angka mencengangkan, yakni Rp37,44 triliun per November 2025.
Angka tersebut mencerminkan betapa masifnya adopsi BNPL di tengah masyarakat, terutama di era belanja digital yang serba instan. Dari sisi perbankan, lonjakan kredit BNPL terus terjadi. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp26,20 triliun, tumbuh 20,34 persen secara tahunan (yoy).
Nilai ini naik dibandingkan Oktober 2025 yang berada di level Rp25,72 triliun. Tak hanya nilai kredit yang membengkak, jumlah rekening BNPL perbankan pun ikut melonjak menjadi 31,47 juta rekening, menandakan semakin luasnya masyarakat yang menggantungkan konsumsi pada skema cicilan instan.
“Per November 2025, baki debet kredit BNPL perbankan sebagaimana dilaporkan melalui SLIK tumbuh 20,34 persen yoy,” ujar Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Desember 2025.
Meski porsinya baru 0,32 persen dari total kredit perbankan, tren ini tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, meski rasio kredit bermasalah (NPL) gross BNPL perbankan membaik ke level 2,04 persen, tekanan risiko tetap mengintai jika pertumbuhan tak diimbangi kehati-hatian.
Tak kalah agresif, perusahaan pembiayaan juga mencatat lonjakan tajam. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyebut pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan telah mencapai Rp11,24 triliun, melonjak 68,61 persen yoy.
Namun di balik pertumbuhan tinggi tersebut, OJK mulai mencium tanda perlambatan. Jika pada September 2025 pertumbuhan BNPL masih melesat hingga 88,65 persen yoy, kini lajunya mulai menurun meski nominal terus naik. Sebuah sinyal bahwa pasar mulai memasuki fase jenuh, atau masyarakat mulai berhitung ulang terhadap utang konsumtif.
Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio kredit bermasalah BNPL perusahaan pembiayaan relatif stabil di 2,78 persen, sedikit membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Meski terlihat aman, angka ini tetap menjadi alarm dini di tengah gaya hidup “klik sekarang, pikir belakangan”.
Ledakan BNPL kini tak sekadar soal kemudahan transaksi, melainkan cerminan perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Di satu sisi mendorong ekonomi digital, di sisi lain menyimpan risiko utang laten. Tantangannya kini ada pada pengawasan, literasi keuangan, dan kesadaran publik—agar kemudahan tak berubah menjadi jerat.(Wee)


























