Jakarta, [GT] – Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 16–17 Maret 2026. Langkah ini diambil di tengah tekanan global akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang mulai mengguncang stabilitas nilai tukar Rupiah.
Rupiah tercatat melemah ke level Rp16.985 per dolar AS pada 16 Maret 2026. Tekanan ini dipicu menguatnya dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta arus modal keluar dari negara berkembang.
Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valas, baik melalui transaksi spot, DNDF, maupun NDF offshore untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 mulai memberikan tekanan serius terhadap perekonomian global. Harga minyak melonjak, rantai pasok terganggu, dan inflasi dunia meningkat.
Pertumbuhan ekonomi global diprakirakan melambat menjadi 3,1%, sementara inflasi naik ke 4,1%. Kondisi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk potensi tertundanya penurunan suku bunga acuan AS.
Dampaknya terasa hingga ke negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menghadapi tekanan pada nilai tukar dan arus modal asing.
Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan pada triwulan I 2026 didorong oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat, terutama selama periode Ramadan dan menjelang Idulfitri.
Peningkatan belanja masyarakat didukung oleh pencairan THR, bantuan sosial, serta berbagai insentif pemerintah. Di sisi lain, investasi juga tetap kuat, termasuk dari proyek pemerintah dan program strategis nasional.
Ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%, dengan catatan stabilitas global tetap terjaga.(*)


























