Batam, [GT] – Tanggul penangkaran buaya di Pulau Bulan, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepri milik PT Perkasa Jagat Karunia (PJK) yang jebol membuat khawatir nelayan sekitar saat melaut.
Apakan tidak, puluhan buaya yang berada dalam penangkaran disinyalir lepas ke laut gugusan Pulau-Pulau sekitar. Paska kaburnya buaya dalam penangkaran, kini banyak beredar video penampakan buaya berukuran besar di pemukiman dari warga Batam.
Penangkaran itu, sudah lama beroprasi disinyalir untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor negara Singapura sejak puluhan tahun di Batam. Sebenarnya Pulau tersebut juga memiliki peternakan babi untuk kebutuhan konsumsi Singapura yang dikirim melalui laut.
Jebolnya tanggul yang membuat buaya lepas ke pemukiman, bukan pertama kalinya. Tapi ini, yang terparah melihat kerusakan tanggul yang cukup luas untuk ukuran predator teratas di rantai makanan itu.
Masyarakat sekitar dirasa kini menelan getahnya, dari keberadaan penangkaran dan peternakan tersebut setelah sekian puluh tahun beroprasi. Pengiriman babi konsumsi dari lokasi penangkaran ke Singapura juga dikeluhkan masyarakat, lantaran baunya sangat menyengat.
Peternakan babi dikelola oleh PT Indotirta Suaka, sedangkan penangkaran buaya itu dikelolah oleh PT Perkasa Jagat Karunia (PJK). Kedua perusahaan ini disinyalir berasal dari Singapura yang masih dalam satu group untuk mengelola lokasi peternakan dan penangkaran di Pulau Bulan.
Babi diekspor ke Singapura melalui laut untuk mencukupi kebutuhan konsumsi, sementara buaya di kirim ke Singapura yang keudian diekspor kembali untuk kebutuhan fasihon dan akupuntur.
Masyarakat di gugusan pulau tersebut Pimen mengaku, khawatir saat melakukan aktifitas di pesisir laut, sebab kejadian jebolnya tanggul penangkaran buaya pulau Bulan sudah berulang. Kali ini yang dia ketahui paling parah dan banyak buaya yang lepas.
“Sudah sering, buaya pulau bulan lepas. Tapi ini yang terbanyak, warga juga sudah ada yang berhasil menangkap buaya. Peternakan babi disitu juga tercium bau menyengat bila sedang di tongkang pengiriman, sepanjang jalan ke Singapura,” ujarnya, Kamis (16/1/25).
Pimpinan PT PJK Toni Budiharjo menjelaskan, ada tiga lapis tanggul di keliling dua danau air tawar tersebut. Danau di sebelah kanan yang lebih luas terdapat sekitar 150 ekor buaya dan di danau sebelah kiri jalan yang lebih kecil terdapat tujuh ekor buaya. Kedua danau dipisahkan jalan tanah dan dikelilingi tanggul tembok. Namun danau sebelah kiri terhubung ke sungai yang menuju ke laut.
“Hujan deras membuat air danau meluap dan arus deras sehingga tanggul jebol. Kami perkirakan sekitar tujuh ekor buaya lepas namun kami masih akan hitung, apakah yang dari sebelah ini ada juga buaya yang lepas. Kami perlu waktu beberapa hari untuk mengeringkan air danau ini dan menghitung jumlah seluruh buaya,” ungkap Toni, saat menjawab sidak Anggota DPRD Batam atas keluhan nelayan setempat.
Toni mengaku tidak dapat mengetahui persis berapa buaya yang lepas selagi tidak dihitung total jumlahnya. Populasi buaya di penangkaran tersebut sekitar 800 ekor lebih. Adapun jenis buaya yang ditangkar adalah crocodile phosphorus, dimana penangkaran dilakukan untuk mengambil kulit reptil berkenaan lalu diekspor ke mancanegara.
“Ada empat ekor buaya yang berhasil kami tangkap. Kami juga terus mencari baik siang maupun malam. Kami sudah berkoordinasi dengan Polsek dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” jelas Toni.
Saat melakukan sidak ke lokasi, Wakil Ketua DPRD Kota Batam Aweng Kurniawan menegaskan, sidak dilakukan guna merespon keluhan nelayan yang takut melaut. Bahkan beliau menerima pengaduan ada nelayan yang terluka digigit buaya.
“Para nelayan ini menggantungkan hidupnya pada laut. Jadi, kita ingin tahu bagaimana tanggungjawab perusahaan dan apa saja upaya-upaya untuk mengembalikan buaya yang lepas tersebut,” ungkap Aweng.
Aweng meminta pihak perusahaan penangkaran untuk terus berkoordinasi dengan instansi terkait yakni kepolisian dan BKSDA. Selain itu, segera membenahi penangkaran agar kejadian serupa tidak terulang.
“Populasi buaya ini kan bertambah terus. Tentu penataan dan pengamanan lokasi penangkarannya harus lebih baik. Apalagi usia penangkaran ini sudah puluhan tahun. Kami akan terus awasi ini,” tegasnya.(Ind)



























