Jakarta, [GT] – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Pentagon dilaporkan menyiapkan sejumlah opsi militer, mulai dari serangan udara besar-besaran hingga kemungkinan operasi darat di wilayah Iran.
Sejumlah sumber yang dikutip Axios menyebutkan, opsi militer itu disiapkan sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur strategis distribusi minyak dunia yang memicu kekhawatiran global.
Pihak Iran menegaskan mereka siap menghadapi segala bentuk eskalasi. Pejabat senior Iran, Ali Akbar Ahmadian, bahkan secara terbuka menantang militer AS untuk mendekat.
“Sekarang, kami hanya punya satu pesan untuk tentara Amerika: Mendekatlah,” tegas Ahmadian.
Menurut laporan, ada empat skenario utama yang sedang dibahas Washington. Mulai dari menyerang Pulau Kharg sebagai pusat ekspor minyak Iran, menargetkan Pulau Larak yang strategis di Selat Hormuz, merebut Pulau Abu Musa, hingga operasi untuk mengamankan uranium yang diperkaya tinggi di fasilitas nuklir Iran.
Selain itu, AS juga disebut menyiapkan opsi serangan udara skala besar terhadap fasilitas nuklir Iran jika situasi terus memburuk.
Meski begitu, Presiden Donald Trump disebut belum mengambil keputusan final. Namun Gedung Putih memberi sinyal keras bahwa Washington siap meningkatkan tekanan jika negosiasi dengan Teheran gagal membuahkan hasil.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memperingatkan Iran bahwa Trump siap menyerang “lebih keras dari sebelumnya” jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Di tengah ancaman itu, AS terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, termasuk dengan pengerahan jet tempur, pasukan Marinir, dan unsur Divisi Lintas Udara ke-82.
Sementara itu, Iran menilai tawaran negosiasi dari Washington hanyalah taktik untuk menutupi persiapan serangan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa setiap langkah militer terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur vital negara-negara regional yang terlibat.
Situasi ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah, dengan risiko konflik yang bisa meluas jauh melampaui Iran dan AS.(*)


























