Pelaku Scamming Sulap Apartemen Jadi Miniatur Kantor Polisi China dan Jepang

Pres rilis kasus ratusan WNA pelaku scamming di Batam.(GRTT/Nug)
Share

Batam, [GT] – Direktorat Jenderal Imigrasi bersama Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Mabes Polri tengah mendalami dugaan masuknya jaringan scamming center Internasional asal Kamboja ke Indonesia.

Baca : 24 WN Tiongkok Dideportasi dari Batam, Imigrasi Bongkar Dugaan Pelanggaran di Apartemen Mewah

Advertisement

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan, meski para pelaku diduga masih berada di luar Indonesia, pihaknya menemukan adanya kemungkinan keterlibatan pihak-pihak di dalam negeri yang membantu memfasilitasi keberadaan jaringan tersebut.

Petugas Imigrasi Batam menunjukan barang bukti scamming.(GRTT/Nug)

“Makanya korban masih di luar Indonesia, namun tidak menutup kemungkinan akan ada kontak di Indonesia. Untuk itu kami perlu mendalami dengan pihak kepolisian,” katanya, Jumat (8/5/26) di Batam.

Baca : Geger Ratusan WNA Diamankan Dari Apartemen, Dugaan Scamming Merajalela di Batam

Ia mengungkapkan, penyelidikan tidak hanya menyasar para pelaku utama, tetapi juga pihak lain yang diduga membantu menyediakan kebutuhan operasional kelompok tersebut selama berada di Indonesia.

“Terkait pihak-pihak lain, baik itu supplier maupun pemberi penginapan, tentu pemeriksaan kami akan mengarah ke sana. Kami pasti akan telusuri lebih dalam,” tegasnya.

Sekretaris NCB Divisi Hubinter Mabes Polri Brigjend Untung Widyatmoko mengungkapkan, bahwa indikasi perpindahan jaringan scam dari Kamboja ke Indonesia semakin nyata. Hal itu diperkuat dengan sejumlah pengungkapan serupa yang sebelumnya terjadi di Jakarta maupun daerah lain.

“Memang indikasi bahwa jaringan ini memiliki kaitan itu nyata. Bahwa Indonesia saat ini sedang kemasukan sindikat penipuan bubaran dari Kamboja, itu terbukti,” ungkapnya.

Baca : Puluhan WNA Terjaring Operasi Gabungan Pengawasan Keimigrasian di Opus Bay

Untung menjelaskan, jaringan tersebut diduga mencoba membangun kembali fasilitas operasi penipuan digital di Indonesia setelah mendapat tekanan di Kamboja. Modus yang digunakan pun disebut menyerupai scam center internasional yang kerap menyamar sebagai aparat penegak hukum asing untuk menakut-nakuti korban.

Dalam pengembangan sebelumnya, aparat menemukan sejumlah properti dan perlengkapan yang diduga akan digunakan sebagai sarana penipuan online. Temuan itu antara lain mock-up kantor polisi China dan Jepang, miniatur ruang interogasi palsu, hingga seragam aparat kepolisian asing.

“Di Surabaya dan Denpasar kami menemukan mock-up seperti kantor polisi China, kantor polisi Jepang, kemudian seragam-seragam polisi China dan Jepang. Indikasi itu menguat,” jelasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *