Oleh: Dr. sarmini, S.Pd.,M.M
Anak Bukan Proyek, Anak Adalah Titipan Masa Depan
Nanti, tepatnya tanggal 23 Juli 2026, kita memperingati Hari Anak Nasional. Temanya tahun ini sederhana tapi menusuk: “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Diksi : Sayang, Lindungi, Bangun, Adalah tiga kata kerja yang seharusnya bukan tiga kata indah untuk spanduk. Sebagai pendidik, saya sering bertemu anak yang datang ke sekolah dengan 2 tas. Satu tas berisi buku. Satu tas lagi berisi luka yang tidak terlihat. Ada yang semalaman begadang karena orang tuanya bertengkar. Ada yang menahan lapar karena uang jajannya dipotong untuk bayar utang. Ada yang jago matematika, tapi takut pulang karena di rumah ada gawai tanpa kontrol.
Kalau begitu, pertanyaannya bukan “sudahkah kita merayakan HAN?” tapi “sudahkah kita benar-benar menyayangi anak?”
Mari kita bicara lebih dalam, sehingga data akan membuat kita mengevaluasi diri, Data Tidak Bohong, Hati Kita Yang Sering Menutup Mata
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Tapi kecepatan itu tidak selalu ramah pada anak.
- Kekerasan masih terjadi di ruang terdekat. Data SIMFONI PPA Kementerian PPPA mencatat sepanjang Januari – Juni 2025 ada 9.588 kasus kekerasan terhadap anak. Pelakunya? 62% adalah orang terdekat: orang tua, keluarga, guru. Rumah yang seharusnya jadi tempat paling aman, justru jadi tempat paling rawan.
- Krisis mental pada anak meningkat. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 1 dari 3 anak usia 13-15 tahun mengalami masalah kesehatan mental seperti cemas dan depresi. Penyebab utamanya: tekanan akademik, bullying, dan kurangnya ruang bicara di rumah.
- Anak dan dunia digital. 80% anak usia 5-12 tahun sudah pegang gawai. Kita bangga anak “melek teknologi”, tapi lupa: algoritma tidak pernah bertanya “kamu sudah cukup umur belum?” Paparan konten kekerasan, judi online, dan pornografi mengintai 24 jam.
Ironisnya, di saat yang sama kita menuntut anak jadi generasi emas 2045. Bagaimana bisa emas ditempa kalau cetakannya retak?
Menyayangi Itu Kata Kerja, Bukan Kata Sifat
Psikolog Urie Bronfenbrenner bilang, anak tumbuh dalam “ekosistem”. Ada keluarga, sekolah, komunitas, negara. Kalau satu lingkaran rusak, maka seluruh ekosistem goyah.
Lalu apa arti “menyayangi” secara ilmiah?
- Sayang = Kebutuhan Dasar Terpenuhi. Abraham Maslow menempatkan rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan sebagai kebutuhan dasar setelah sandang-pangan. Anak yang lapar kasih sayang akan mencari “penggantinya” di tempat lain: geng motor, game, atau relasi yang salah.
- Lindungi = Memberi Ruang Aman untuk Salah. Konsep “positive discipline” dari Jane Nelsen menekankan: mendidik tanpa kekerasan fisik dan verbal. Melindungi bukan berarti memenjarakan anak di rumah. Tapi memberi pagar yang jelas: “Nak, kamu boleh mencoba, ibu/ayah ada di belakangmu”.
- Bangun Masa Depan = Menanam Karakter, Bukan Sekadar Nilai. UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak mengamanatkan negara wajib menjamin hak anak untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi. “Bangun masa depan” berarti kita menyiapkan anak yang mandiri, berempati, dan berani. Bukan anak yang hanya jago ranking tapi rapuh mental.
Jadi, menyayangi itu proses, perlu waktu, tenaga, dan keberanian untuk hadir.
PR Besar Kita – Rumah, Sekolah, dan Negara
- Di Rumah: Kembali Jadi “Rumah”, Bukan “Hotel”
Banyak orang tua hari ini hebat mencari nafkah, tapi lupa mencari waktu. Kita mengganti pelukan dengan transfer. Mengganti obrolan dengan video call 30 detik.
Sayang itu begini: 15 menit sebelum tidur tanpa gawai. Tanya: “Hari ini apa yang bikin kamu bangga?” atau “Apa yang bikin kamu sedih?”.
Melindungi itu begini: Pasang parental control, tapi juga pasang “parental connection”. Anak yang dekat dengan orang tuanya, 70% lebih kecil kemungkinannya terjerat narkoba dan pornografi.
Membangun masa depan itu begini: Libatkan anak dalam keputusan kecil. “Minggu ini kita masak apa?” “Uang saku 50rb mau dipakai buat apa?”. Dari situlah lahir kemandirian dan karakter wirausaha yang kita bahas sebelumnya.
- Di Sekolah: Dari “Lulus Ujian” ke “Lulus Hidup”
Sekolah tidak bisa cuci tangan. Guru adalah orang dewasa kedua yang paling lama dilihat anak.
Program Market Day yang kita jalankan adalah contoh konkret. Ketika siswa jualan, dan yang beli adalah teman, guru, dan wali murid, di situ terjadi 3 hal:
Anak belajar mandiri karena dia yang tanggung jawab dengan modal dan rugi-laba.
Anak belajar berani karena dia harus menawarkan dagangannya.
Dan yang paling penting: anak merasa dilihat. Guru dan ortu jadi pembeli, artinya mereka menghargai proses anak.
Sekolah juga harus jadi tempat melapor yang aman. Stop kalimat: “Ah itu cuma bercanda”. Bullying, pelecehan, perundungan harus ditangani tuntas. Karena 1 anak yang terluka di sekolah, bisa kehilangan harapan pada 1000 hari belajar berikutnya.
- Di Negara dan Komunitas: Kebijakan Harus Memihak Anak
Kita butuh kota ramah anak: ada taman, ada ruang bermain, ada transportasi aman. Kita butuh UU yang tegas pada predator anak di dunia maya. Kita butuh guru BK yang jumlahnya cukup, bukan 1 guru untuk 400 siswa.
Komnas PA mencatat, kasus kekerasan naik 15% setiap tahun ajaran baru dimulai. Ini bukan kebetulan. Ini tanda ada yang salah dengan transisi dan tekanan di sekolah.
Akhir dari Tulisa say aini, saya mengajak kita semua : Mulai Dari 3 Hal Kecil Hari Ini
Buat kita semua, orang tua, guru, dan warga:
- “Satu Jam Tanpa Layar”. Luangkan 1 jam sehari tanpa HP untuk benar-benar menatap mata anak kita. Dengarkan tanpa memotong.
- “Satu Pelukan dan Satu Pujian Spesifik”. Bukan “pintar”. Tapi “Ibu bangga kamu berani presentasi tadi, suaramu jelas”.
- “Satu Ruang Aman”. Pastikan setiap anak punya 1 orang dewasa yang bisa dia percaya. Bisa guru, bisa paman, bisa kakak. Jangan sampai dia merasa sendirian.
Sehingg akita akan menyadari bahwa Masa Depan Tidak Kita Wariskan ke Anak. Masa Depan Kita Titipkan Lewat Anak
Tema di Hari Anak Nasional 2026 nanti Adalah “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” adalah pengingat.
Menyayangi tanpa melindungi = membiarkan anak terluka.
Melindungi tanpa membangun = menciptakan anak yang penakut.
Membangun tanpa menyayangi = mencetak robot berprestasi.
Ketiganya harus jalan bersama.
Anak-anak hari ini akan jadi pemimpin, guru, dokter, dan orang tua 20 tahun lagi. Cara kita memperlakukan mereka hari ini, adalah cara mereka akan memperlakukan dunia nanti.
Jadi mari kita mulai dari hal paling sederhana: menunduk, sejajar dengan tinggi badan mereka, dan berkata: “Ayah/Ibu/Guru ada di sini. Kamu aman. Kamu penting. Dan masa depanmu, kita bangun bersama.”
Selamat Hari Anak Nasional 2026.
DAFTAR PUSTAKA
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2025). Data SIMFONI PPA Semester 1 2025. Jakarta: KemenPPPA.
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia: Kesehatan Mental Remaja. Jakarta: Kemenkes.
- Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Cambridge: Harvard University Press.
- Nelsen, J. (2016). Positive Discipline. New York: Ballantine Books.
- Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Jakarta: Sekretariat Negara.
- Komisi Nasional Perlindungan Anak. (2024). Laporan Tahunan Kasus Kekerasan terhadap Anak. Jakarta: Komnas PA.


























