Batam, [GT] – Wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) semakin rawan dijadikan jalur masuk utama penyelundupan narkoba dari luar negeri oleh sindikat Internasional.
Letaknya yang strategis berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura, serta luasnya garis pantai yang mencapai ribuan kilometer, membuat pengawasan menjadi sangat kompleks dan rumit.
Baca : Aparat Gabungan Dikabarkan Kembali Gagalkan Penyeludupan 1,8 Ton Narkoba di Kepri
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian, perairan Kepri menjadi salah satu jalur favorit sindikat luar negeri untuk memasok sabu, ekstasi, kokain dan jenis narkoba lainnya ke wilayah Indonesia.
Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari pengiriman via kapal nelayan, speedboat, dan kapal tanker hingga penggunaan pelabuhan tikus di pulau-pulau terpencil yang sulit diawasi.
“Kepri menjadi wilayah transit yang sangat strategis karena dekat dengan negara sumber dan jalur perairannya luas. Para penyelundup memanfaatkan celah ini, sebagai pintu masuk yang sangat primadona,” kata sepakat aparat, saat pres rilis pemusnahan 2 ton narkotika di Lantamal IV Batam, dua hari lalu.
Baca : Kepulauan Riau Masih Jadi Primadona Jalur Masuk Narkoba dari Luar Negeri
Puluhan Kasus Terbongkar, Narkoba berton-ton Disita Aparat
Selama tahun 2024, aparat gabungan dari BNN, Bea Cukai, dan TNI AL mencatat lebih dari 30 kasus penyelundupan narkoba melalui laut Kepri. Salah satu kasus terbesar terjadi di perairan Anambas, ketika aparat menggagalkan penyelundupan sabu seberat 1,2 ton yang dibawa dari Malaysia menggunakan kapal nelayan.
Tak jarang Kapal mencoba menghindari kejaran dengan mematikan GPS dan berputar-putar di perairan bebas, namun acap kali berhasil dilacak melalui data intelijen dan teknologi radar, begitu kata pejabat Bea Cukai Batam.
Kasus lainnya terjadi di Karimun, di mana sindikat menyembunyikan ratusan ribu butir ekstasi dalam kontainer yang dicampur dengan produk makanan ringan. Dari hasil penyelidikan, narkoba tersebut diperkirakan bernilai lebih dari Rp200 miliar di pasar gelap.
Baca : Ternyata BB Kokain dan Sabu Tangkapan TNI AL Sebanyak 2,061 Ton
Memasuki tengah tahun 2025 ini saja, ada dua penindakan cukup menyita perhatian terhadap Kapal asing yang mengangkut narkotika dalam jumlah yang fantastis. Lagi-lagi di Bumi Berazam, TNI AL berhasil menciduk KIA Thailand menyelundupkan 2,061 ton kokain dan sabu di Selat Durian, Karimun, Kepri.
Baru saja selesai dimusnahkan barang bukti itu, aparat gabungan Bea Cukai, TNI dan BNN kembali berhasil mengagaglkan penyelundupan 1,9 ton lebih sabu yang di angkut menggunakan Kapal MT Sea Dragon yang dinahkodai oleh WN Thailand dan WNI.
Keterbatasan Personel dan Teknologi
Meski sejumlah kasus berhasil diungkap, aparat mengakui masih banyak tantangan dalam pengawasan laut Kepri. Jumlah kapal patroli yang terbatas, medan geografis yang sulit dijangkau, serta minimnya alat pemantauan modern menjadi kendala utama.
“Kami memiliki ribuan pulau dan tidak semua punya pos penjagaan. Penyelundup tahu betul celah mana yang bisa mereka manfaatkan,” ujar seorang pejabat kepolisian yang enggan disebut namanya.
Baca : Bongkar Sindikat Narkoba Internasional, BNNP Kepri Tangkap 6 Tersangka
Teknologi seperti radar maritim, kamera termal, hingga penggunaan drone dinilai belum optimal dalam sistem pengawasan saat ini. Hal ini menjadi alasan mengapa sindikat narkoba masih leluasa memanfaatkan laut Kepri sebagai jalur favorit.
Masyarakat Lokal Jadi Korban dan Pelaku Sejak Lama
Tak hanya sebagai jalur penyelundupan, wilayah pesisir Kepri juga menjadi tempat rekrutmen bagi kurir dan pelaku lokal. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa sebagian warga tergiur iming-iming upah besar untuk membantu operasional sindikat.
Ada sejumlah pengakuan dari warga pesisi kota Batam, Kepri yang pernah terlibat penyeludupan kokain dan sabu ratusan kilo sekitar 33 tahun lalu. Alasasnnya kelasik, untuk mencukupi kebutuhan ekonomi dari imbalan yang didapat.
Prosesnya sama dengan yang kini diungkap, pada medio sekitar 1992, sebut saja inisial OS yang mengaku pernah memindahkan sekitar 500 kg kokain dari kapal kontener asing di selat Malaka perbatasan Indonesia-Singapura.
Baca : Ditresnarkoba Polda Kepri Bongkar Peredaran 93 Kg Sabu, 3 Tersangka Diciduk
Seingatnya, dulu bungkusan barang juga dikemas dalam karung turun dari kapal yang tiba dari perairan Internasional. Upahnya dibagi kepada sejumlah orang, lantaran perlu bebebrapa tenaga untuk memindahkan dari kapal ke kapal (ship to ship).
“Waktu itu, barang sempat turun di sebuah pulau tak berpenghuni di Kecamatan Belakangpadang, Batam, namun tujuan akhir saat itu sebagian ke Jakarta dan sebagian lagi kata kawan lanjut menuju Australia,” ujarnya, belum lama ini.
Perlu Upaya Terpadu dan Kerja Sama Lintas Negara
Untuk menekan angka penyelundupan, sejumlah pakar menyarankan peningkatan kerja sama antarnegara, khususnya dalam pertukaran informasi intelijen dan patroli bersama di perairan perbatasan.
“Tanpa sinergi regional, kita akan selalu tertinggal dari langkah para sindikat narkoba yang sangat terorganisir,” ujar pakar keamanan maritim dari Universitas Indonesia, Dr. Iqbal Rasyid.
Pemerintah pusat juga didesak untuk meningkatkan alokasi anggaran untuk pengamanan laut serta memberdayakan masyarakat pesisir agar tidak mudah terlibat dalam jaringan kriminal yang menyelundupkan narkoba dari luar negeri.(Nca)


























