Arti Kaos Sayed Adnan Saat Mualem Apresiasi Aksi Kemanusiaan IJTI Sumatera

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem saat emberi apresiasi aksi senyap IJTI Korwil Sumatera pada korban bencana.(GRTT/Nug)
Share

Aceh, [GT] – Di tengah kepenatan warga yang masih bergulat dengan dampak bencana, suasana hangat terasa saat Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem bertemu para jurnalis yang turun langsung membantu korban.

Pertemuan itu berlangsung sederhana, bukan di ruangan berpendingin dengan jamuan mewah tapi di lokasi yang dipenuhi relawan, logistik bantuan, serta wajah-wajah lelah yang tetap menyimpan harapan.

Advertisement

Perhatian publik kembali tertuju pada kaos yang dikenakan Mualem. Bergambar Sayed Adnan, sosok yang lekat dengan sejarah Aceh, kaos tersebut menyita sorot kamera dan perhatian publik.

Namun pada momen itu, simbol sejarah hadir bukan untuk diperdebatkan, melainkan menjadi pengantar pesan kemanusiaan di tengah situasi darurat.

Mualem menyampaikan apresiasi atas aksi cepat dan nyata Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Koordinator Wilayah Sumatera yang dikomandani oleh Gusti Yenosa.

Menurutnya, para jurnalis tidak hanya menjalankan tugas peliputan, tetapi juga ikut menyalurkan bantuan dan memberikan penguatan moril kepada masyarakat terdampak bencana. Ia menilai kehadiran insan pers di lapangan menjadi energi positif bagi warga yang sedang diuji.

Di barisan relawan, para jurnalis IJTI Korwil Sumatera tampak bersahaja dengan perlengkapan lapangan seadanya. Setelah seharian bergerak, mereka membawa bantuan, mendengar keluh kesah warga, dan memastikan suara korban tersampaikan.

Bagi IJTI Korwil Sumatera, aksi ini bukan semata tugas profesi, melainkan wujud panggilan nurani dan solidaritas. Kaos bergambar Sayed Adnan yang dikenakan Mualem seolah menjadi pengingat bahwa Aceh dibangun dari perjalanan panjang sejarah.

Dari masa konflik menuju perdamaian, hingga hari ini ketika kebersamaan dan kepedulian menjadi kekuatan utama saat bencana datang.

Momen kebersamaan antara Gubernur Aceh dan para jurnalis itu menegaskan satu pesan kuat. Di Aceh, solidaritas masih hidup. Dan ketika jurnalis memilih turun tangan untuk kemanusiaan, bukan hanya berita yang sampai ke publik, tetapi juga harapan bagi mereka yang terdampak.(Nca)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *