Eksodus Tak Terbendung, Amsakar Achmad: Sampah, Kemiskinan, dan Air Bersih Jadi Ancaman Batam

Penumpang Kapal Pelni tiba di Pelabuhan Batu Ampar Batam.(Ist)
Share

Batam, [GT] – Lonjakan arus migrasi ke Batam diprediksi akan terus meningkat tajam dalam beberapa tahun ke depan. Data dari Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan menunjukkan, periode 2024 hingga 2029 mencatat potensi pertumbuhan penduduk migran lebih dari 17 ribu jiwa.

Namun, fakta di lapangan jauh lebih mencengangkan. Dalam enam bulan terakhir saja, estimasi awal sekitar 45 ribu jiwa melonjak drastis hingga mendekati 1,4 juta orang. Kondisi ini dinilai menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.

Advertisement

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa laju migrasi yang tinggi harus segera dikendalikan agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap daya dukung kota.

“Pertumbuhan migrasi di Batam ini sangat tinggi. Kalau tidak kita kendalikan dengan baik di tingkat daerah, dampaknya akan sangat luas, mulai dari lingkungan hingga kesejahteraan masyarakat,” tegas Amsakar.

Dampak yang mulai terasa pun beragam. Pertama, volume sampah meningkat signifikan seiring bertambahnya jumlah penduduk. Kedua, angka kemiskinan berpotensi bertambah jika pertumbuhan tidak diimbangi dengan lapangan kerja. Ketiga, risiko kawasan kumuh dan penurunan kualitas lingkungan menjadi ancaman nyata.

Tak hanya itu, tekanan terhadap infrastruktur dasar juga semakin besar. Pemerintah menyoroti pentingnya percepatan pembangunan jaringan telekomunikasi serta peningkatan layanan air bersih.

“Kita harus memastikan keandalan pelayanan air bersih dan infrastruktur dasar lainnya. Karena pertumbuhan penduduk ini terjadi sangat cepat dan masif,” tambah Amsakar.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan perubahan kebijakan nasional terkait data sosial. Jika sebelumnya bantuan mengacu pada DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), kini beralih ke DT10 atau Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional.

Perubahan ini berdampak langsung pada penerima bantuan. Program lansia yang semula dirancang untuk 2.000 orang kini meningkat menjadi 4.000 orang. Namun, sekitar 2.000 penerima lama justru tidak lagi masuk kategori berdasarkan klasifikasi baru.

“Perubahan data ini membuat kita harus benar-benar cermat. Jangan sampai kebijakan yang kita ambil tidak tepat sasaran,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah kini melakukan pendataan ulang, khususnya untuk kelompok usia produktif hingga lansia, guna memastikan distribusi bantuan lebih akurat.

Selain persoalan teknis, Amsakar juga menekankan pentingnya membangun narasi positif di tengah masyarakat agar arus migrasi tidak memicu konflik sosial.

“Mari kita maknai Batam sebagai rumah bersama. Migrasi ini harus kita kelola, bukan menjadi sumber persoalan baru,” ujarnya.

Untuk merespons situasi ini, berbagai tim lintas sektor telah diturunkan ke lapangan, mulai dari penanganan sampah, kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan hidup, guna memetakan persoalan dan merumuskan kebijakan strategis.(Din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *