Banyuasin, [GT] – Bank Indonesia memperkenalkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) sebagai strategi baru untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Program ini hadir menjawab tantangan inflasi pangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, cuaca ekstrem, hingga karakter komoditas yang musiman.
Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup hanya berfokus pada stabilisasi harga jangka pendek. Pendekatan baru harus inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan menitikberatkan penguatan pasokan pangan dari hulu ke hilir.
Data BI menunjukkan, inflasi nasional sepanjang 2025 masih terkendali di 2,92% (yoy), berada dalam sasaran. Namun memasuki Januari 2026, inflasi meningkat ke 3,55% (yoy), didorong kelompok pangan bergejolak. Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan kebijakan pangan agar inflasi tetap terjaga pada rentang aman.
BI menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, peningkatan produksi pangan, khususnya hortikultura, melalui bibit unggul tahan cuaca, teknologi adaptif, dan pola tanam terkoordinasi. Kedua, penguatan distribusi dan konektivitas antarwilayah dengan efisiensi logistik serta optimalisasi Kerja Sama Antardaerah (KAD). Ketiga, memperkuat sinergi pusat dan daerah, termasuk pemanfaatan data neraca pangan dan peran BUMD sebagai offtaker.
“Stabilitas harga dan ketahanan pangan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, hingga petani,” ujar Ricky.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyoroti peran inovasi digital dalam memperkuat ekosistem pangan. Program SiBenih dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) dinilai berhasil meningkatkan daya tahan sektor pangan daerah. Sumatera Selatan sendiri tercatat sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar nasional.
GPIPS merupakan penguatan dari program sebelumnya, GNPIP, dengan fokus baru pada penguatan sektor hulu, stabilisasi harga jangka pendek, serta sinergi kebijakan lintas wilayah. Agenda GPIPS Sumatera 2026 juga dirangkaikan dengan Rakor TPIP–TPID, temuwicara petani dan UMKM, hingga business matching perbankan.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah akan terus memperkuat mitigasi risiko cuaca ekstrem serta efisiensi logistik pangan. Tujuannya jelas: menjaga harga tetap stabil, menekan disparitas, dan mendorong kesejahteraan masyarakat.(*)


























